Ismanto tidak menutup-nutupi latar-belakang kisahnya. Bukan dirinya yang memulai, melainkan istri pertama. Perempuan itu juga pensiunan guru, dinikahi 1977. Saat usia perkawinan jelang pensiun ia keasyikan pada perannya sebagai seorang nenek di tengah para cucu. Anaknya 3 orang, dari mereka lahir 5 cucu. Peran sebagai nenek mengasyikannya. Tak pelak peran sebagai istri terabaikan. Suami merasa kurang diperhatikan, sampai pun pada urusan di balik kelambu. Dialog sudah dilakukan. Tapi ketemu jalan buntu.
Lalu, entah kebetulan atau memang disengaja, Ismanto bersua kembali dengan mantan murid. Statusnya saat itu janda. Dulu mereka pernah akrab layaknya guru dan murid. Khususnya pada pelajaran ekstra kulikuler karawitan.
Hubungan tersambung. Pendeknya, si mantan murid mengidolakan betul sosok Mas Guru, dan belum luntur. Ismanto memang piawai nembang (menyanyi lagu-lagu karawitan), main gamelan, dan aneka kesenian tradissional Jawa.
Dengan seizin istri pertama Ismanto menikah lagi. Tidak di KUA. Isteri muda minta nikah siri saja, agar tetap pada status sebagai penerima pensiun dari suami pertama. Poligami pun terjadi. Tentu istri tua tidak rela, marah, dan benci.
Dengan menikahi wanita kedua, Ismanto harus berbagi perhatian dan tanggungjawab. Sambil terus mencari cara mendamaikan. Sekali waktu ke rumah Wetan (timur, Ringinharjo, istri tua), selebihnya ke rumah Kulon (barat, Pajangan, istri muda).
Pensiun, kesibukan Ismanto masih urusan karawitan. Diantaranya menjadi pengrawit pada pergelaran Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Selebihnya membantu usaha isteri muda buka toko kelontong kecil.
Anak-anak dari isteri tua (3 orang) dan isteri muda (2 orang) bersekolah dengan baik. Ada yang melanjutkan kuliah ke UNY, ada pula yang ke UGM (Teknik Mesin dan Kedokteran Hewan). Anak sulung dari isteri pertama meneruskan profesi kedua orangtuanya sebagai guru.
Sembilan tahun berlalu. Waktu berjalan mencairkan kebekuan. Ismanto berhasil menjembatani. Anak2, cucu2, orangtua, saudara2 dan seluruh keluarga trah akhirnya kompak menyatu. Saling kunjung dan melakukan kegiatan bersama. Arisan, menghadiri undangan resepsi, dan lainnya. Tak canggung lagi.
Begitulah kisah hidup 3 orang penyaji. Jalan hidup mereka mengundang perhatian, empati dan  simpati peserta Zoom. Selanjutnya 3 orang pakar dibidangnya bersiap membahas.