Yu Saripah berangkat pagi-lagi sekali ke pasar. Wajahnya meriah, senyum dan celoteh bahagia sepanjang jalan disela kayuhan sepeda onthel, menambah kegembiraan hati. sudah tidak banyak lagi orang naik sepeda. Kebanyakan naik motor. Jadi mereka ngebut, suka main klakson sembarangan, hingga suka bikin terkejut.
Kalau biasanya Yu Saripah bersungut-sungut bila dikejuti klakson motor, kali ini tidak. Ia tersenyum saja, mengucap Alhamdulillah, dan melambaikan tangan kepada orang yang memberinya klakson.
Sampai kemudian ada sepeda motor yang berhenti. Pengendaranya seorang lelaki paruh baya, ganteng, berkumis, dan tersenyum manis. Tentu saja Yu Saripah seketika merasa gede rasa, alias ke-geer-an. Lelaki itu membuka helm yang dikenakannya.
"Bu, punten sekadar memberitahu. . . . Â !" katanya sambil menunjuk ban belakang sepeda Yu Saripah.
"Apa, Pak? Apakah kita saling kenal?"
"Kenal? Boleh saja kalau ingin kenalan. Tetapi saya hanya ingin memberi tahu, ban sepeda ibu gembos. Lebih baik bawa ke tukang tambal ban dulu. Kalau nekat dikendarai takutnya bikin celaka. . . . ."
"Ohh.. . . Â Saya kira apa. . . hehehe!" Yu Saripah menghentikan laju sepedanya, lalu melirik ke ban belakang, dan menarik nafas panjang. "Ohh, saya terlalu gembira dan penuh semangat, sampai tidak berasa ban sepeda gembos. Terima kasih, Pak. . . . Â ehh, Mas. Terima kasih sudah diberitahu. Mas, baik hati sekali deh. . . . !"
Lelaki ganteng itu tidak menyahut. Hanya mengacungkan jempol tangan kanan. Dan segera menstater sepeda motornya, kemudian melaju meneruskan perjalanan.
*
Sampai di pasar ternyata agak siang juga. Lebih siang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jadinya agak kesal juga harinya. Padahal ada yang segera ingin ia sampaikan kepada Mujilah, teman senasib sesama buruh gendong di pasar Gede. Janda tiga anak itu menemukan kawan berbagi cerita dan curhat hanya pada Mujilah.
"Tiga hari mangkir, Yu? Kemana saja?" sambut Mujilah sambil menyalami Yu Saripah, lalu memeluk melepas rindu.