Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Kurma

Sahur Gaya dan Sahur Terpaksa

4 Juni 2018   23:44 Diperbarui: 4 Juni 2018   23:48 917
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sahur on the Road (SotR) yang dilakukan oleh para pemuda dengan cara berputar-putar kota menggunakan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat memang sering menimbulkan ekses negatif. Ketika mereka bertemu, lalu terjadi saling ejek dan saling tegur, saling ganggu, tak jarang kemudian terjadi perkelahian dan tawuran. Bukan hanya pemuda awam yang memang sering memburu gaya 'seru-seruan' dan/atau 'cuma iseng'; tetapi pernah diberitakan bahkan ada pula anak sekolah, mahasiswa, geng motor, anggota ormas, dan santri yang terlibat peristiwa itu.

Ada lagi yang menggunakan acara SotR) tersebut sebagai sarana kebut-kebutan di jalan raya, sehingga selain membahayakan keselamatan sendiri juga mengganggu dan mengancam keselamatan orang lain.

Anak-anak sekolah, para mahasiswa, organisasi pemuda, dan berbagi instansi baik Pemerintah maupan swasta memiliki kegiatan Ramadan, salah satunya 'sahur di jalan' itu. Sahur penuh gaya, sahur untuk ajang muamalah namun tak jarang terjerumus pada tindak kenakalan yang kelewaan.

Padahal ide semula sangat bagus dan cerdik. Banyak orang yang terlantar di jalanan kota, karena alasan kemalaman tidak mendapatkan angkutan umum kembali ke rumah, tidak punya tempat tinggal, kehabisan uang transport, atau bahkan para pemulung dan gelandangan, yang membutuhkan uluran tangan untuk makan sahur atau sekadar makan malam untuk pengisi perut (bagi yang tidak berpuasa karena satu dan lain alasan).

Maka tak heran dengan melihat sisi negatifnya, kegiatan itu pernah di larang oleh salah satu Pemprov. Meski kemudian kebijakan itu memunculkan pro-kontra antara yang berpendapat berdasarkan hal-hal ideal namun tidak melihat kondisi di lapangan, dengan yang berpikiran praktis dan pragmatis. Keduanya bisa jadi tidak salah asalkan kegiatan itu justru memunculkan keresahan pada masyarakat karena adanya tawuran, kebut-kebutan, hingga peristiwa kriminal yang tidak diinginkan.

Misalnya, bikinlah saja pos-pos sahur di pusat dan sudut-sudut kota yang tersebar. Tidak harus berkelilling-keliling kota dengan berbagai ekses negatif yang besar kemungkinan ditimbulkannya.

Namun sebenarnya ada 'sahur on the road' yang sangat kondisional, setengah terpaksa dan memang harus dilakukan. Siapa mereka, dan mengapa?

 *

'Sahur on the road' memberi beberapa pamahaman. Selain gaya remaja dengan naik kendaraan berkeliling kota untuk mencari sasaran pemberian makan sahur (nasi bungkus, nasi dos/kotak, dan sebutan lain serupa itu) pada berbagai penjuru kota, maka ada pula yang sekadar makan sendiri di tengah perjalanan. Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan pada pemudik Lebaran.

Akhir bulan Ramadan tahun 2016 ketika pintu Tol Brebes Timur, yang kemudian dikenal sebagai Brexit -- Brebes Exit -- dikabarkan  antrian mobil menjadi sangat pajang. Pada hari ke lima jelang Lebaran bahkan mencapai 18 kilometer. Kebanyakan pemudik melewati waktu berbuka dan sahur di dalam antrian yang tidak bergerak, seperti parkir, sepanjang malam. Saya dan iseri yang menumpang mobil adik dari Bekasi ke arah Yogya ikut terjebak dalam euphoria jalan tol baru yang memakan korban belasan orang meninggal dunia itu.

Lalu sahurnya bagaimana? Ya, sahur seadanya. Hanya da makanan kecil dan minum air kemasan. Pada kilometer tertentu ada warga masyarakat sekitar jalan tol yang berjualan di balik pagar, namun jalan panjang yang lain kosong, sepi dan gelap. Kanan dan kiri jalan tol hanya sawah, kebun, hutan, dan padang rumput atau genangan air.

*

Jauh sebelum jalan tol Cikampek tersambung ke Cirebon, sahur di jalan pernah terpaksa kami lakukan pula. Waktu itu karena perkiraan meleset. Berita media yang gencar dan bertubi-tubi ikut memperngaruhi pertimbangan meleset itu. Satu waktu banyak pemudik yang berpikir bahwa berjalan malam hari akan lebih nayaman, sebab jalanan relatif lancar, tidak panas, dan juga santai dapat makan-minum sepanjang jalan sehingga mengurangi rasa kantuk.

Media ramai-ramai memberitakan hal itu dengan tambahan tips untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Tetapi karena sebagian besar pemudik berpikiran sama, yaitu degan berangkat setelah Shalat Subuh, tak urung terjadi kemacetan pula. Itu awal tahun 2000-an. Dari kota Bandung ke arah timur kemacetan lalu-lintas terjadi  sauh sebelum masuk kawasan Malangbong. 

Dari mulut ke mulu disebutkan ada bus yang terperosok di pinggir jalan, sehingga mengganggu lalu-linta yang sangat padat itu. Tidak mau terjebak lebih lama kami memutar arah dan masuk melalui Cibatu menuju Garut. Meski jarak menjadi relatif jauh namun lancar  ke Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan terus ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Pada jelang Lebaran tahun-tahun berikutnya kondisinya belum berubah banyak. Begitu keluar kota Bandung langsung ketemu macet di Cileunyi, Parakan Muncang, kemudian di jalan baru, dan menjelang Malangbong. Sahur terpaksa dilakukan di jalan, tepatnya di dalam mobil. Adik ipar yang bertugar membeli makan harus bersitegang dari pembeli lain karena stok warung makan sangat terbatas. Rupanya penjual tidak menganisipasi bakal terjadi kemacetan yang menyebabkan dagangannya habis tuntas oleh pembeli  yang berebut ketika waktu makan sahur tiba.

*

Untuk mengantisipasi 'sahur gaya' salah satunya dengan bikin pos-pos sahur. Tidak perlu acara 'sahur' digabung dengan 'touring'. Tiap-tiap perseorang-organisasi-pemerintah atau swasta bikin saja pos-pos berjejer seperti warung tenda dengan aneka menu yang berbeda: sate, soto, bakso, pizza, burger, nasi/mie goreng, dan entah apa lagi. 

Bersainglah dengan sehat dan sportif. Tidak perlu harus ada tawuran dan perkelahian. Mottonya sederhana: pelanggan datang-makan dan kenyang tanpa bayar, donator/petugas/pelaksana pos sahur sibuk-cekatan- melayani dengan ramah sambil mengharapkan pahala yang berlimpah

Sementara itu untuk mengantisipasi kemacetaan di jalan tol maupun jalan-jalan negara dan jalan alternatif, sediakan pos wahur serupa di berbagai titik rawan macet. Lebih baik lengkap dengan WC/kamar Mandi Umum -- Mushola -- dan tempat beristirahat yang luas-nyaman. WC/kamar mandi umum mestinya yang 'mobile' kemana pun macet kemungkinan terjadi. 

Sedang kemacetan di jalan raya, berbagai fasilitas dapat disediakan di seberang jalan (tentu dengan pengaturan dan penjagaan yang baik agar tidak justru timbul korban karena urusan seberang-menyeberang di jalan tol).

Dengan begitu meski bertajuk sahur terpaksa --dalam koneks Sahur on the Road- , kiranya para pemudik kelak akan ketagihan juga untuk merasakan kembali pengalaman yang sangat langka itu. 

Begitulah, setelah sahur maka tidak ada alasan batal apapun alasannya. Kalau memang tidak kuat berjalan siang hari dalam kondisi berpuasa, terlebih untuk mereka yang menggunakan kendaraan roda dua, sebaiknya menunda pulang kempung pada atau setelah Lebaran saja. Hari demi hari pada bula Ramadan terlalu berharga  untuk dilewatkan begitu saja karena keutamaannya.

Nah, begitu saja sekadar cerita lama mengenai 'sahur gaya dan sahur terpaksa'. Mudah-mudahan bermanfaat.***4/6/2018

  Gambar

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun