Tapi begitulah, walau sudah berupaya menjadi rakyat biasa--tetap saja warga Arab dan jemaah haji yang melihat pak Harto semua menyapa dengan sapaan "assalamu'alaikum ya rois Indonisi". kata 'rois Indonisi" sendiri berarti "Presiden Indonesia".
Lalu akhirnya, semenjak ke-haji-an pak Harto ini, mulailah pemakaian jilbab menjadi hal yang lumrah dan diterima masyarakat. Bahkan konon, salah satu alasan kenapa pak Harto di gulingkan karena semakain 'hijau'nya pak Harto ini.
Saking hijaunya--betapa banyak masjid dibangun olehnya dengan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila-nya dari tahun 1982 menjadi semakin gesit usai pulang berhaji. Termasuk pembangunan masjid "Soeharto" di Bosnia saat konflik dengan Serbia.
Nah, inilah sebenarnya adalah hal yang hendak saya ketahui. Pergi haji memang bukan sekedar gelar bagi para pemimpin. Tetapi pengetahuan yang didapat setelah haji itulah yang terpenting. Dari soal pemahaman agama hingga lainnya.
Seperti halnya Prabowo yang berhaji lagi tahun 1997. Prabowo melihat adanya masalah masa depan ibadah haji di Indonesia.
Bayangkan saja, dengan jumlah penduduk Indonesia yang semakin menggila dan kuota kurang dari 1% dari total jumlah penduduk--tentu ini sangat kurang. Apalagi pertumbuhan kelas ekonomi menengah Indonesia semakin membuat kuota ini sangat tidak sebanding. Bisa di cek waktu tunggu berhaji di Indonesia yang rata-rata di tahun 2014 ini mencapai 8 hingga 10 tahun.
Belum lagi masalah lain perihal pemondokan/hotel, transportasi hingga pengolahan dana haji yang selama ini tidak terlihat manfaat bagi jemaah haji Indonesia sendiri--kecuali bertambahnya modal putar bagi bank penyimpan dana ini selama bertahun-tahun.
Hal inilah yang akhirnya membuat Prabowo segera mengumpulkan para ulama NU, Muhammadiyah dan ekonom muslim lainnya untuk mencari solusi. Salah satu solusi yang diambil oleh Prabowo adalah membuat sejenis bank/lembaga keuangan khusus Haji.
[caption id="attachment_333149" align="aligncenter" width="581" caption="Pak Harto dan Prabowo beserta Dr. Ahmed"]
Bahkan saking besarnya cita-cita membangun yang disebutnya BANK TABUNG HAJI ini membuatnya segera bertemu dengan Presiden Islamic Development Bank Dr. Ahmed Mohammed Ali Al-Madani PhD di Jeddah untuk meminta masukan dan mentoring pembangunan ini jika Allah meridhoi menjadi Presiden Indonesia.
Dari konsep yang dipaparkan Dr. Ahmed ini--Prabowo menjadi sangat optimis kelak calon jemaah haji Indonesia tidak perlu lagi menjual tanah/sawahnya hanya untuk naik haji. Sejak kecil sudah bisa memuali mencicil biayanya.