Kemarin Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja melansir data mengenai surplus beras nasional, yakni sekitar 2,8 juta ton.
Angka itu jauh dari data yang dikeluarkan Kementerian Pertanian (Kementan), yaitu surplus 13,03 juta ton.Â
Selisih yang amat sangat jauh sekali itu adalah kesalahan fatal dari Kementan. Seandainya tukang hitung di Kementan itu adalah anak-anak umur 3 tahun, kita mungkin maklum karena mereka belum lancar berhitung.
Masalahnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman itu bergelar Doktor. Selain itu, ia mengelola anggaran Pertanian yang besarnya Rp 22,6 trilyun di tahun ini. Masa dengan uang sebanyak itu, ia tidak bisa menghasilkan hitungan yang akurat?
Disini kita patut pertanyakan, kemana saja larinya uang itu?Â
Bila data produksi beras saja tidak bisa ia hitung dengan cermat, maka kita wajib curiga tentang kemampuan ia mengelola anggaran pertanian hingga 22 trilyun lebih. Jangan sampai anggaran itu bocor karena salah-salah administrasi, atau malah dibobol anak buahnya sendiri. Sama seperti data produksi beras yang ngaconya bukan main.Â
Rasanya sudah pas bila Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit pekerjaan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. supaya antara pekerjaan dan anggaran, tidak bobol seperti data Kementerian Pertanian yang mereka sajikan.Â
Atau kalau perlu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan. Mana tahu ada pekerjaan atau anggaran yang dibobol. Wong data produksi beras saja bisa diakali, apalagi sekadar laporan keuangan? Waspadalah!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H