Pelonjakan kasus covid-19 di Indonesia semakin hari semakin menunjukan tren yang negatif. Setiap hari selalu ditemukan satu kasus baru.
Mengutip laman detik.com Pemerintah merilis data terbaru terkait virus Corona baru (COVID-19) di Indonesia. Total, hingga hari ini ada 2.956 kasus positif COVID-19.
"Ada 218 kasus baru. Total menjadi 2.956 kasus," ujar Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Wabah Virus Corona, Achmad Yurianto.
Data ini tentu sangat mengkhawatirkan kita semua. Sejak ditetapkan sebagai bencana nasional pada awal Maret lalu, virus corona terus bergerak liar ke semua daerah di Indonesia.
Lambannya penanganan serta minimnya perlalatan medis dinilai sebagai latar belakang yang membuat pelonjakan kasus ini terus meningkat setiap harinya.
Konsep kebijakan yang ditawarkan oleh pemerintah juga dinilai masih kurang tepat dan cepat untuk memutus rantai penularan virus corona di Indonesia. Hal ini ditunjukan dari gagapnya komunikasi publik yang disodorkan pemerintah kepada rakyat.
Atas kejadian tersebut, pemerimtah dihujani kritik dan interupsi dari masyarakat. Pemerintah dituduh lebih mementingkan ekonomi daripada keselamatan warganya.
Selain dari dalam negeri, sorotan juga datang dari pihak luar. Misalnya saja WHO.
Sebagai Badan Otoritas Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyurati Presiden Joko Widodo untuk lebih sigap lagi melakukan aksi tanggap darurat virus corona di Indonesia.
Dari beberapa point yang diusulkan oleh WHO, Presiden Jokowi pun menjawab telah dan sudah melakukan rencana aksi tanggap tersebut. Dan yang belum akan diupayakan untuk segera dilaksanakan.
Tidak hanya dari WHO, salah seorang dokter Malaysia juga ikut angkat suara. Pernyataan dokter ini tentu berangkat dari keresahannya terhadap kasus corona yang juga sangat banyak.
Mengingat Indonesia dan Malaysia adalah negara tetangga yang  sangat dekat dan masih satu daratan dengan Pulau Kalimantan ia pun menyerukan agar perbatasan lebih diketatkan untuk memutus mata rantai penularan corona dari wilayah luar.
"Saya risau (dengan) Indonesia. Indonesia adalah sebuah bom waktu. Kita harus kendalikan perbatasan kita. Jika tidak, itu akan menjadi klaster besar COVID-19. Wallahu a'lam (Allah lebih tahu)," ungkapnya dalam laman indozone.com.
Pernyataan dari seorang dokter asal Malaysia bernama Musa Mohd Nordin itu tentu sebuah tuduhan yang bukan tanpa alasan.
Sampai saat ini, indonesia memang belum memiliki rencana aksi khusus dalam menutup perbatasan apalagi dengan negara tetangga baik Malaysia dan Brunei Darusallam. Yang ada hanya skreening dan pemeriksaan dari petugas kesehatan yang bertugas didaerah tersebut.
Sedangkan Dokter Musa Moh. Nordin berkehendak agar pemerintah Malaysia menutup rapat-rapat negaranya agar virus itu bisa dikendalikan dan tidak masuk lagi karena pintu-pintu perbatasan tidak ditutup dan dijaga ketat.
Alhasil ia pun menuntut kepada pemerintahan Malaysia agar melakukan lockdown total.
Pernyataan dari seorang dokter asal Malaysia bernama Musa Mohd Nordin itu tentu sebuah tuduhan yang bukan tanpa alasan.
Data mengungkapkan bahwa 10 negara dengan presentase kematian tertinggi ialah Italia dan Indonesia menempati urutan ke dua. Sedangkan dari jumlah kasus kejadian angka terbanyak ada di Malaysia, Filipina dan Thailand dalam skala Asia Tenggara.
Melansir laman kompas.com Per Minggu (5/4/2020), jumlah kasus virus corona yang dilaporkan di negara Malaysia sebanyak 3.662 kasus. Dari jumlah tersebut, terjadi 61 kematian. Sementara, 1.005 pasien telah dinyatakan sembuh.
Apa yang terjadi antar Malaysia dan Indonesia adalah musuh yang sama. Pernyataan dari dokter Musa Mohd Nordin seharusnya tidak semsestinya terucap ke publik.
Bahwa apa yang negara Indonesia lakukan sampai saat ini adalah sebuah upaya keras dan kerja sama segala pihak untuk memutus mata rantai penularan.
Terkait perbatasan seharusnya kedua negara bisa saling bekerja sama untuk menangkal virus corona. Saat arus masuk dan keluar perbatasan ditutup, tentu akan merugikan kedua bela pihak.
Akan baik rasanya jika kerja sama billateral bidang kesehatan ditengah pandemi ini bisa terselenggara. Apalagi jika kedua bela pihak sepakat untuk melakukan skreening dan langkah observasi bersama-sama.
Pernyataan dokter Musa Mohd Nordin sesungguhnya bisa juga menjadi masukkan bagi pemerintahan kita. Perbaikan langkah-langkah penanganan dan pencegahan perlu dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan.
Metode PSBB yang akan diterapkan seyogyanya harus diikuti dengan langkah-langkah inovasi yang lain. Sehingga alternatif ketersediaan langkah kebijakan bisa mendorong penurunan kasus corona di Indonesia.
Sebagai warga negara Indonesia, tentu kita khawatir juga dengan pernyataan tersebut  Namun alangkah baiknya jika kita tetap fokus melakukan aksi pencegahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Mari buktikan bahwa Indonesia akan berhasil keluar dari masalah ini dan bukan menjadi bom waktu virus corona yang dituduhkan oleh dokter dari Malaysia tersebut.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI