Mohon tunggu...
Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Mohon Tunggu... Jurnalis - Praktisi Media

Kompasianer of the Year 2017 | Wings Journalist Award 2018 | Instagram/Twitter: @zoelfick

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Apache RTR200, Antara Sakura dan Taj Mahal

31 Agustus 2016   22:06 Diperbarui: 31 Agustus 2016   22:13 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berada di pabrik TVS yang berlokasi di Karawang, 23 Agustus lalu, menjadi pengalaman tersendiri. Tentu saja, kesempatan ini bisa saya dapatkan berkat undangan Kompasiana yang bekerja sama dengan TVS Indonesia, di acara bertajuk TVS Joy Ride hingga 24 Agustus.

Ya, kesempatan berada di pabrik tersebut, membantu saya yang selama ini tak lebih sebagai konsumen, menjadi lebih memahami apa yang menjadi plus minus dengan pabrikan yang identik dengan India tersebut.

Maklum, mau tak mau harus diakui, seperti jamaknya masyarakat Indonesia, selama ini saya pribadi cenderung lebih akrab dengan sepeda motor keluaran Jepang. Sedangkan kini, justru berhadapan dengan sebuah pabrik yang menjembatani kehadiran motor Negeri Hindustan itu ke Indonesia.

Sejujurnya, ada kegembiraan tersendiri saat berada di lokasi pabrik tersebut. Walaupun, sebagai seorang perokok, saya sempat digelisahkan dengan sulitnya mencari tempat mengubah mulut saya sendiri menjadi knalpot.

Setidaknya, kegelisahan itu terjawab dengan kegembiraan saat saya dengan 10 rekan Kompasianer, berada di dalam area pabrik. Juga berkesempatan melihat langsung berbagai proses perakitan, tak terkecuali pengecatan hingga pengujian kekuatan mesin dan ban.

Ya, ada banyak istilah dunia motor di balik setiap tempat yang ada di dalam pabrik itu. Tak mudah untuk kepala saya merekam semua, tapi dapat dipastikan tak dapat melupakan setiap sudut pabrik yang berada di kawasan industri di Jawa Barat tersebut.

Ketertarikan saya tertumpu pada bagaimana perusahaan asal India tersebut sangat terobsesi pada hal-hal yang berbau inovatif. Salah satunya, tentu saja saat melihat dan "mencicipi" sendiri seperti apa cita rasa berkendara menggunakan TVS Apache RTR200 4V, yang juga dipinjamkan ke saya dari Jakarta hingga tiba di pabrik ini.

turing-57c6f13ea923bd0d4ecccd52.jpg
turing-57c6f13ea923bd0d4ecccd52.jpg
Di jalanan, tentu saja telah saya jajal bagaimana kelebihan kekurangan sepeda motor tersebut. Tak hanya terlihat gaya, tapi juga kenyamanan pun bisa saya dapatkan saat menunggang si kuda besi ini. Walaupun, sejujurnya saya pun sempat merasakan kejanggalan saat berada di atas jok motor ini. Lagi-lagi, karena selama ini saya terlalu akrab dengan pabrikan Jepang.

Tapi sejatinya, dari sisi kualitas hingga bentuk, sepeda motor produksi TVS ini tak terlalu jauh dibandingkan sepeda motor yang dilahirkan perusahaan-perusahaan Jepang. Hanya, mungkin karena terbiasa dengan "aroma Sakura" maka itu, saya pribadi sempat merasa asing dengan keindahan "Taj Mahal".

Sebut saja kendaraan yang sempat saya tunggangi selama dua hari itu, dalam hal desain bisa dipastikan tak kalah dengan keluaran Jepang. Dalam desain, misalnya, Apache RTR 200 ini sendiri menggunakan konsep TVS X21 Draken.

Tak berhenti di situ, aroma digital yang mewakili kekinian pun tak lepas dari motor tersebut. Indikator kecepatan pun berbentuk digital dengan layar LCD, hingga indikator kecepatan puncak. Untuk satu ini, sebelum berangkat ke pabrik pun, pihak TVS sempat beberapa lama menjelaskan kepada dan rekan-rekan Kompasianer.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun