“Selepas kegiatan, kita bersua kembali ya?” sapaku kepada ke Afif Hanidar dan sahabat-sahabatnya. Ia membalas “Nanti saya kembali melihat bintang diatas perairan ini”. Asyik.
***
Kapal KM Kelud sudah hampir setengah perjalanan menuju kembali ke pelabuhan tanjung Priok.
Di tengah malam jelang hari berganti, obrolan di buritan kapal berlanjut dengan peserta mahasiswa dari beberapa kampus dari Jakarta, Bogor dan Bandung. Mereka adalah mahasiswa jurusan Perikanan, Kelautan, Pertahananan dan sebagian saya lupa memastikannya. Mereka berdiskusi tentang beberapa kebijakan pemerintahan Jokowi di sektor maritim. Mereka merumuskan bagaimana sikap dan peran mahasiswa dalam mendukung serta mensukseskan kebijakan di sektor maritim yang telah digagas oleh Pemerintahan Jokowi.
[caption caption="Mahasiswa Jurusan Perikanan, Kelautan dan Pertahanan Laut diskusi Maritim di buritan KM Kelud"]
Di negeri yang memiliki luas lautan lebih besar daripada daratannya ini, telah ditegaskan oleh nakhodanya pada 20 Oktober 2014 lalu bahwa “Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim”. Cukup menggetarkan jiwa bagian sebagian kita.
Nahkoda itu mengajak kita semua untuk melihat masa depan. Mengajak bergotong royong membangun negeri ini “hadir di antara bangsa-bangsa dengan kehormatan, dengan martabat, dengan harga diri. Kita ingin menjadi bangsa yang bisa menyusun peradabannya sendiri. Bangsa besar yang kreatif yang bisa ikut menyumbangkan keluhuran bagi peradaban global”.
Ia mengajak kita semua melihat dan menempatkan “Samudra, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita”.
Benar bahwa “Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk”, kata hati ini bersepakat dengannya.
Ya negeri ini memang mulai bergeliat dengan halaman depannya. Sang nahkoda bersama awaknya terus bergerak, kembangkan layar yang kuat untuk ciptakan konektivitas antar kepulauan. Laut sudah dikembalikan sebagai penghubung. Gelombang bukan lagi ancaman. Ia adalah tantangan.
Saatnya kita kembangkan “jiwa cakrawarti samudera; jiwa pelaut yang berani mengarungi gelombang dan hempasan ombak yang menggulung”.