Karena di dasar laut yang ditemukan itu itu juga, Udang sesekali menyembul ke permukaan laut. Pertama kali sungutnya disembunyikan, matanya hanya menangkap hamparan laut lepas.
Kedua kali disimpulkan yang menabrak buritan kapal nelayan. Udang menenggelamkan diri lagi. Â
Ketika ketiga kalinya sungutnya disembulkan, Â radarnya menangkap sesuatu bentuk pulau di depannya. Â Perlahan-lahan ia mengangkat tubuhnya dan mengambang ke permukaan laut.
"Istirahat sebentar, ah. Lumayan buat meregangkan pinggang. Lho tampaknya ada terowongan di sana. Asyik niiih, aku bisa rebahan dulu."
Tiba-tiba ia mendengar sesuatu.
"Hatchi ... hatchi ... Hachi" Â terdengar ada yang bersin. Si udang terheran-heran. Â Padahal ia yakin tak ada kehidupan di sini. Akan tetapi, suara itu berulang-ulang didengarnya. Â Bahkan suara itu dirasakannya. Cipratan bersihnya menyemprot sekujur tubuhnya.
"Hei, siapa yang berani mengilik-ilik lubang hidungku? Songong amat ya? Awas, kalau kena kucincang kau. Kulumat sampai tak tersisa. Haaaahhscyiii!"
Udang berpikir keras. Jangan-jangan aku kesasar ke hidung raksasa atau monster laut. Â Tubuh udang gemetar. Rasa takut melingkup. Ia ingin keluar dari terowongan itu.
Tapi harus bagaimana aku ini? Setiap kali yang menggesek-gesekkan  sungutnya,  terdengar bersin. Begitu seterusnya
 Ia nekad. Dengansungutnya yang tajam, akhrinya ia gesek-gesekkan ke dinding-dinding hidung binatang yang disangkanya terowongan.
Tak terelakkan lagi hidung binatang itu rasa sakit yang luar biasa. Binatang itu bersin sekencang-kencangnya.
"Hatshachiiiiii!"
Bersamaan dengan itu terlemparlah tubuh udang ke udara. Tubuhnya terbang tinggi sekali, Â sehingga para nelayan yang kebetulan melaut dan melihat kejadian itu sempat bengong.
"Apaan tuuuh?"
"Wooooaaaaaaaaaauww, tolooong!" pekik Udang.
Setelah bermain sirkus di udara dengan gaya salto bebas, Â Udang terhempas di sebuah pulau karang. Â Rasa sakit tak terperikan. Sekujur tubuhnya linu. Tulang-tulang persendian terasa copot.
Ia lunglai. Dirabanya punggung dan iganya.
"Ooohhhh punggungnku patah."
Mengetahui keadaan demikian, ia pingsan. Iatak sadarkan diri.
Dalam pingsan, ia bermimpi. Ia didatangi ikan Paus. Ia didamprat habis-habisan, tak tersisa apa pun. Tak ada celah menjawab, alih-alih maling kampung dihakimi warga.
Ruapanya ia tadi salah masuk ke lubang hidung ikan Paus. Ia bertemu pula dengan si burung Camar.
"Bagaimana sahabat? Anda telah membuktikannya, kan? Oh ada yang patah di punggungmu rupanya. Tak apa.
Aku banyak kenal dukun patah tulang. Semoga saja bisa disembuhkan. Â Itu kalau kau mau. Aku tidak memaksamu. Â Atau mau kubawa ke panti pijat?"
 "Ya ... ya. Apa itu tadi?" respon Udang menyeringai.
 "Panti pijat."
"Aku lebih suka ke sana, karena akan dilayani para Duyung nan jelita. nanti Kamu mau mengantarkan aku, Mar?" rajuk Udang.
 "Oke oke saja, tapi jangan salahkan aku kalau ada apa-apanya kelak." si Camar mengingatkan.
Nah, para pembaca yang Budiman karena sudah dibawa ke panti pijat Putri Duyung, akhirnya punggungnya yang patah tidak bisa diluruskan kembali. Â Punggung Udang tetap bungkuk sampai sekarang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H