Mridangam (India). Mridangam adalah alat musik India kuno dan kemungkinan berusia ribuan tahun. Asal-usul pastinya tidak diketahui, tapi alat musik ini berperan penting di banyak cerita tentang dewa-dewi dan tergambar di lukisan-lukisan dan arca-arca yang berasal dari masa 200 SM. Mridangam ini adalah salah satu alat musik perkusi tertua India, yang berasal dari masa 2000 tahun lalu.
Pipa (China). Teks-teks China yang paling awal menyebutkan alat musik ini berasal dari masa Dinasti Han di sekitar abad ke-2 (atau tahun 200 M). Pipa mencapai puncak popularitasnya selama Dinasti Tang, dan merupakan alat musik utama dalam kekaisaran. Alat musik ini bisa dimainkan sebagai alat musik tunggal atau sebagai bagian dari orkestra kekaisaran untuk digunakan dalam pertunjukan seperti daqu, pertunjukan tari dan musik.
Sheng (China). Sheng adalah salah satu alat musik China tertua. Gambar-gambar yang menampilkan alat musik yang mirip Sheng berasal dari masa 1100 SM, tapi alat musiknya itu sendiri berasal dari Dinasti Han (periode 206 SM--220 M). Sheng ini dibawa ke Rusia pada tahun 1770-an untuk menginspirasi penciptaan alat-alat musik Eropa seperti akordeon dan harmonika.
Dari keempat alat musik yang ditelusuri tersebut, kita bisa melihat bahwa kesemuanya berasal dari masa sebelum masa Borobudur. Masa Borobudur itu sendiri adalah sekitar abad ke-7 dan ke-8 atau tahun 700 M dan 800 M. Jadi, kita bisa memastikan bahwa Borobudur sesungguhnya adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai wilayah di luar Jawa. Mengutip pernyataan Prof. Melanie Budianta, Borobudur adalah sentra persilangan budaya yang dinamis dan inklusif karena di sana terdapat jejak dinamika lintas budaya (persilangan pengaruh dari belahan Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan) -- menembus batas-batas negara-bangsa.
Kenyataan sejarah tentang Borobudur ini membuat saya merenung: Nusantara yang terletak di garis khatulistiwa ini memang sudah nalurinya menjadi tempat persinggahan orang-orang dari berbagai tempat yang dekat maupun yang jauh. Dengan adanya orang-orang yang singgah, kemungkinan besar ada sebagian dari mereka yang kemudian menetap dan berasimilasi dengan orang-orang lokal. Kebudayaan-kebudayaan daerah di seluruh Nusantara ini mungkin bisa dikatakan tidak seratus persen murni kebudayaan lokal. Pasti ada sepersekian persennya yang terpengaruh dari kebudayaan luar. Dengan kata lain, Nusantara adalah sebuah wilayah yang masyarakatnya heterogen sejak ratusan tahun silam. Itu merupakan jiwa Nusantara. Naluri Nusantara. Dan Nusantara itu adalah Indonesia di masa sekarang. Jadi, mengapa ada orang-orang Indonesia di masa kini yang menginginkan Indonesia menjadi seragam dalam hal beragama dan berbudaya? Tidak sadarkah mereka bahwa Tuhan memang sudah menggariskan Indonesia sebagai tempat berdiamnya orang-orang dengan beragam latar (budaya, suku, agama, dan hal-hal berbeda lainnya)? Tidak sadarkah mereka bahwa tuntutan mereka untuk menyeragamkan Indonesia sama saja artinya dengan melanggar "takdir Tuhan"?
Indonesia adalah negara heterogen. Itu harga mati, karena itulah jiwa Indonesia yang sesungguhnya. Wonderful Indonesia.
Sumber Data:
https://en.wikipedia.org/wiki/Pipa