Karena hampir tiap lebaran aku selalu bikin Tape Ketan. Enak rasanya, mudah pembuatannya dan banyak yang suka, itu alasanku.
Silaturrahmi secara langsung sebenarnya boleh dilakukan, namun ada syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi.
Mengikuti protokol kesehatan dengan menyiapkan tempat cuci tangan, hand sanitizer, tanpa jabat tangan, jaga jarak, bermasker, hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang satu wilayah dusun atau desa saja, tak boleh menerima tamu dari luar, pun warga setempat tak boleh silaturrahmi keluar.
Untuk shalat Idul Fitri, aku juga kurang tahu informasi, apakah akan diadakan di masjid-masjid dan mushalla-mushalla yang tersebar di kampung kami atau tidak.
Tapi suamiku memutuskan untuk shalat Idul Fitri berjamaah di rumah. Dengan pertimbangan yang matang tentunya. Yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati.
Pemerintah dan tim medis berulang kali mengingatkan untuk tidak mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa. Demi apa, demi memuruskan mata rantai Virus Corona.
Pilu rasanya Idul Fitri kali ini, semua harus menahan diri, harus bersabar. Yang di rantauan tak bisa pulang. Yang di kampung halaman harus menunda rindu dengan orang-orang tercinta, benar-benar rindu yang tertahan.
Namun aku tak boleh menyerah dengan keadaan. Aku harus tetap ceria. Keceriaanku pasti akan berimbas di lingkunganku. Tetap optimis menghadapi apapun, termasuk Virus Corona.
Sayup aku dengar takbir berkumandang dari mushalla dekat rumah.
"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Walillahil hamdu"
Allah Maha Besar
Tiada Tuhan selain Allah
Allah Maha Besar  dan segala puji bagi Allah.