"Apa yang kamu lakukan di sini, Fero?" tanya Fio dengan nada hati-hati.
"Aku hanya ingin meminta maaf, Fio. Aku tahu aku telah berbuat salah. Aku ingin berubah, dan aku ingin kamu melihat perubahan itu."
Fio terdiam sejenak, memandangi Fero dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Kamu sudah banyak menyakitiku, Fero. Ini bukan tentang permintaan maaf, tapi tentang perubahan yang nyata."
"Aku mengerti," jawab Fero dengan suara pelan. "Aku hanya berharap kamu bisa memberi aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar berubah."
Fio menghela napas panjang. "Baiklah, Fero. Aku akan memberimu kesempatan. Tapi ingat, ini bukan untuk kembali seperti dulu. Aku ingin melihatmu berubah menjadi orang yang lebih baik."
Dengan dukungan kakeknya dan tekadnya sendiri, Fio mulai mempercayai Fero lagi. Mereka menjalani hubungan baru yang lebih sehat dan saling menghormati. Fero berusaha keras menunjukkan bahwa ia telah berubah. Dia tidak lagi posesif dan mulai menghargai Fio sebagai individu yang mandiri dan kuat.
Fio dan Fero akhirnya menikah dalam sebuah upacara sederhana namun penuh makna. Mereka berkomitmen untuk menjalani hidup bersama dengan penuh cinta dan penghormatan. Adel yang sekarang sehat kembali, menjadi pengiring pengantin dengan senyum yang lebar di wajahnya.
Kehidupan Fio kini jauh berbeda. Dia menemukan kebahagiaan sejati bersama keluarga dan suaminya yang penuh kasih. Cerita ini mengingatkan kita bahwa kebebasan dan harga diri adalah hal yang tak ternilai, dan penting untuk mengenali nilai diri serta memilih jalan yang sesuai dengan prinsip dan integritas pribadi.
Fio dan Fero, dengan semua liku-liku yang telah mereka lalui, menjadi contoh bahwa perubahan itu mungkin dan kebahagiaan sejati bisa ditemukan ketika kita memilih untuk memperbaiki diri dan menjalani hidup dengan integritas
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H