Mohon tunggu...
Siska Fajarrany
Siska Fajarrany Mohon Tunggu... Penulis - Lecturer, Writer

Suka menulis.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Mycoplasma Pneumonia Terdeteksi di Jakarta, Kenali Gejala dan Pencegahannya

7 Desember 2023   16:46 Diperbarui: 8 Desember 2023   22:35 585
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Mycoplasma Pneumonia di dalam tubuh manusia. (Sumber: Shutterstock/Kateryna Kon via kompas.com) 

Sehat menjadi kebutuhan semua orang. Badan yang bugar, fisik yang kuat, dan pikiran yang prima tentu selalu disemogakan setiap hari dalam doa.

Mendapatkan kesehatan bukan hanya jaminan negara untuk rakyatnya. Tetapi menjadi tanggung jawab sendiri untuk lebih konsentrasi pada kesehatan diri, bahkan orang-orang di sekitar. Memastikan orang tua, sanak saudara, pasangan, dan anak-anak berada dalam lingkungan yang bersih dah sehat.

Masih terekam jelas dalam ingatan ketika pandemi Covid-19 menjadi hantu-hantu yang mengintai seluruh negeri. Hampir setiap hari, berita duka silih berganti disampaikan lewat speaker masjid terdekat. Sedih rasanya mengingat itu semua. Apalagi jika ada kerabat yang harus menyerah melawan virus corona ini.

Sama halnya dengan Covid-19 yang bermula dari China, kini sedang ramai pula penyakit yang terdeteksi di China. Mycoplasma Pneumonia hampir sebagian besar menyerang anak-anak. Masa tumbuh dan berkembang anak malah direnggut dengan adanya penyakit ini.

Tidak hanya di China, beberapa negara di Eropa juga mendeteksi adanya Mycoplasma Pneumonia. Seperti di Belanda yang menyerang anak-anak berusia 5 sampai 14 tahun.

Lonjakan infeksi saluran pernapasan tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait adanya patogen baru yang kemungkinan menjadi alasan peningkatan kasus tersebut.

Kabar buruknya, di Indonesia pun sudah terdeteksi kasus yang serupa. Hari ini (07 Desember 2023), Kementerian Kesehatan RI melaporkan ada 6 kasus Mycoplasma Pneumonia di Jakarta. Sama seperti di China, bakteri ini menyerang anak-anak berusia 3 sampai 12 tahun.

Meski terdengar menyeramkan, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Bakteri Mycoplasma Pneumonia sudah pernah terjadi bahkan bisa dibilang sering terjadi. Sehingga bentuk penyakit dan cara pengobatannya pun sudah diketahui.

Lain halnya saat terjadi pandemi Covid-19. Di mana corona adalah patogen baru yang belum diketahui bentuk penyakit dan cara pengobatannya.

Mycoplasma pneumonia ini sebenarnya mirip dengan infeksi saluran pernapasan (ISPA) lainnya. Meski sudah ada pengobatannya, bukan berarti kita abai dan lalai dalam menghadapi Mycoplasma pneumonia. Minimalnya kita mengenal penyakit ini sehingga tahu gejala dan penanganannya. Kita juga harus tetap waspada terutama dalam memperhatikan kesehatan anak-anak.

Dikutip dari data World Health Organization (WHO) bahwa pada tahun 2019, sebanyak 740.180 anak-anak meninggal akibat pneumonia. Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di seluruh dunia.

Pneumonia bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Penyakit ini masih ada kaitannya dengan Covid-19. Di mana SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 adalah salah satu jenis virus yang bisa menyebabkan pneumonia. Beberapa virus yang umum menyebabkan pneumonia adalah virus influenza dan respiratory syncytial virus (RSV). Sedangkan jenis bakteri yang umum menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumonia.

Kasus di China, beberapa negara Eropa, dan di Jakarta memang mengenai anak-anak. Namun, bukan berarti hanya anak-anak saja yang rentan terkena pneumonia. Orang dewasa juga berpotensi terkena pneumonia. Khususnya orang dewasa yang berumur di atas 65 tahun.

Mantan pasien rumah sakit juga bisa terkena. Dengan riwayat pernah di rawat di rumah sakit dalam waktu yang lama atau di rawat di ruang ICU dengan menggunakan ventilator untuk membantu pernapasan.

Perokok juga bisa terkena pneumonia. Apalagi orang-orang yang memiliki imunitas tubuh rendah, seperti pengidap HIV.

Adanya penularan membuat semua orang berpotensi terkena penyakit ini. Penularan yang pertama adalah secara langsung. Misalnya percikan yang dikeluarkan penderita pneumonia saat batuk, lalu terhirup oleh orang lain.

Penularan yang kedua adalah tidak secara langsung. Misalnya penderita pneumonia menutup mulutnya saat bersin menggunakan telapak tangan. Lalu tangannya menyentuh benda lain sehingga menyisakan percikan air liurnya. Tanpa sadar ada orang lain yang menyentuh barang tersebut sehingga air liur menempel di tangannya. Tangannya melakukan aktivitas yang melakukan kontak dengan mulut atau hidung.

Untuk dapat menghindari penularan tersebut, pastikan untuk selalu cuci tangan teratur secara menyeluruh. Apalagi setelah kontak dengan penderita pneumonia. Kita juga bisa selalu membawa hand sanitizer saat berada di tempat umum. Lebih aman lagi menggunakan masker di tempat umum ataupun saat berinteraksi dengan orang yang terlihat sedang sakit. Pastikan untuk menggunakan peralatan makan pribadi sekalipun sedang makan di tempat makan. Jangan meminjamkan peralatan makan pribadi kepada orang lain.

Gejala pertama Mycoplasma Pneumonia biasa diawali dengan demam. Kemudian muncul batuk yang sangat mengganggu aktivitas. Bahkan batuk tersebut bisa sampai 2 sampai 3 minggu. Gejala selanjutnya adalah sakit tenggorokan. Ada juga yang sampai merasa sesak di dada dan badannya lemas sekali. Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, dan mudah lelah juga menjadi gejala-gejala penyakit ini.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, sudah sepatutnya kita lebih waspada untuk kesehatan diri sendiri maupun orang sekitar. Langsung konsultasikan dengan dokter sehingga dapat terdeteksi tingkat keparahannya. Pengobatan pneumonia akan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan yang dialami.

Demi kesehatan bersama, jika mengalami gejala pneumonia, dapat melakukan pembatasan interaksi dengan orang lain. Mengikuti perintah dokter jika dianjurkan untuk beristirahat di rumah saja. Rutin cuci tangan dan menjaga lingkungan sekitar. Tak kalah penting, pada saat batuk atau bersin, pastikan untuk menutupnya dengan tisu. Lalu langsung membuang tisu tersebut ke tempat sampah dan mencuci tangan memakai sabun secara keseluruhan di bawah keran air yang mengalir.

Menyikapi kasus yang sedang ramai ini, sudah sepatutnya kita melakukan pencegahan agar terhindar dari Pneumonia. Untuk perokok aktif bisa dimulai dengan mengurangi aktivitas merokok. Bagi yang sering jajan sembarangan, kini bisa mulai rutin mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Kaum rebahan juga harus bergerak untuk rutin berolahraga dan menjaga daya tahan tubuh. Tak lupa dengan menjaga kebersihan, menggunakan masker, dan mencuci tangan dengan benar secara keseluruhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun