Kedua, hati kita kotor akibat selalu bermaksiat.
Memiliki ilmu saja tidaklah cukup, tetapi hati harus senantiasa bersih, penyakit hati harus diobati dengan dzikir (mengingat Allah), karena makanan hati adalah dzikir.
Allah SWTÂ berfirman:
Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (QS. Al-Kahfi: 24)
Ketiga, sombong dan dengki
Orang yang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan dengan yang lain. Dia memandang rendah, hina dan lainnya. Rasulullaah SAW bersabda:Â "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia (HR. Muslim No. 2749 dari Abdullah bin Mas'ud)
Kenapa iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam a.s.? Sebab, iblis sangat dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis. Rasulullah SAW bersabda, "Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang Muslim yang rakus terhadap harta dan dengki terhadap agama. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu". (HR. At-Tirmidzi)
Keempat, lebih mencintai kehormatan daripada kebenaran.
Hal seperti ini terjadi pada orang yang tidak ingin kehilangan kewibawaannya bila ia mengikuti jalan yang benar karena kebanyakan orang-orang yang kehidupannya berada, mereka di luar jalan yang benar. Mereka melakukan segala cara untuk menaikkan derajat kehormatan dihadapan mahkluk, daripada melakukan muhasabah atas segala khilaf dan dosa yang diperbuat dalam menapaki jalan yang lurus menuju hidayah. Maka solusi yang tepat ialah menguatkan hati untuk tetap istiqomah di jalan kebenaran apapun resiko yang akan dihadapi.
Kelima, kecintaan keluarga dan kerabat lebih dari kebenaran yang datangnya dari Allah SWT.
Paman Nabi yaitu Abu Thalib, meski membela dan melindungi dakwah Rasulullaah, ia tetap musyrik dan lebih memilih agama leluhurnya karena hubungan kekerabatan dan kecintaannya pada keluarga.Â
Bahkan jelang meninggalnya, Rasulullah mengajaknya bertauhid, namun ia lebih memilih agama yang dianut para pendahulunya. Memasukkan hidayah ini ke dalam hati seseorang bukanlah tugas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab hati hamba berada di tangan Allah, Dia yang membolak-balikannya sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga orang yang paling Beliau cintai sekalipun, tidak mampu dijadikan menjadi seorang muslim, yang mau menerima petunjuk.
Keenam, adanya permusuhan antara seseorang dengan orang lain.
Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara, sehingga tidak sepantasnya ada kebencian yang mengakar dalam diri mereka, permusuhan yang bekepanjangan. Islam adalah agama penuh rahmat untuk semesta.
 Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS.Al-Hujurat {49}:10).Â
Dengan rahmat-Nya, maka Allah memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Ketujuh, lebih mencintai negaranya daripada kebenaran.
Seseorang yang lebih memilih negara dan tanah airnya dari pada menjalankan apa yang seharusnya dilakukan menurut islam. Biasanya kenyataan seperti ini rentan pada orang yang imannya masih lemah. Oleh karena itu untuk menghindari masalah ini maka pertebalah keimanan kita terhadap Islam.