Tanpa memedulikan ekspresi Vina yang bingung, transaksi action figure itu tetap berlangsung. Sembari bersiul-siul, si penjual membungkus keempat action figure dengan terampil.
Dengan riang, Ryan memberikan hadiahnya. Vina menerimanya dengan resah. "Ini terlampau mahal."
"Tak ada yang terlampau mahal untukmu. Anggaplah ini sebagai kenang-kenangan. Aku tahu kau akan merawatnya dengan baik."
Hati Vina yang sedingin es balok, langsung lumer. Ryan memang pemuda yang baik hati. Action figure Teenage Mutant Ninja Turtles diam-diam sangat berarti bagi Vina. Â Dulu Frans, almarhum kakaknya yang meninggal dunia karena kanker lambung, sangat menyukai karakter tersebut.
Sekarang temani aku memilih action figure," ajak Ryan penuh semangat. Ia memang pemuda periang yang menguarkan energi positif.
Setelah mengelilingi setengah area event sembari disapa berbagai kenalan Ryan, kaki Vina terasa lemah. Tapi ia tak tega mengutarakan kepenatannya karena antusiasme di wajah Ryan yang secerah mentari.
"Bukankah kau sudah memiliki action figure karakter ini?" Tanya Vina heran.
"Tapi aku belum memiliki yang edisi ini. Aku memang sangat menyukai action figure beetle transformer dan bumblebee beetle transformers," ujar Ryan dengan mata berbinar penuh bintang.
Vina menghela napas. Tingkah Ryan persis anak kecil berusia 5 tahun yang dibiarkan menjelajah di toko permen.
"Aku akan membelikan kedua action figure transformers ini untukmu," ujar Vina penuh percaya diri.
Ryan tercekat. Masa gadis ini hendak membelikan hadiah? "Jangan! Aku sanggup membelinya kok."