Ketika saya mencoba untuk merenung, bukan hanya kehidupan di tanah emas ini saja yang melelahkan, saya sendiri juga merasa lelah dan lusuh. Situasi ini nampak seperti seseorang hilang semangat. Melihat semua realitas, padahal hidup di atas tanah emas tanpa perlu kerja keras dan bersusah payah.
Sejenak saya memulai untuk memahami dalam kesendirian bahwa lelah disini adalah "bosan", ya bosan melihat orang lain memperlakukan hidup kita dengan tidak layak. Dunia dengan segala kemewhannya hanya "begitu-begitu" saja, tidak ada perubahan dan tidak kemana-kemana. Dunia ini membosankan dan sangat melelahkan.
Kehidupan di dunia ini bukanlah kehidupan yang hakiki, realita ini menunjukkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melelahkan, sekalipun kita berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan emas yang kita miliki, tetapi kesenangan di dunia ini hanyalah kesenangan yang sesaat dan menipu.
Tidak bisa dipungkiri, lelah di dunia adalah sesuatu yang pasti, karena pada hekekatnya dunia sangat melelahkan. Ibarat sebuah penjara yang mengekang kebebasan sampai badan terasa penat. Lelah bak ombak di lautan yang datang silih berganti, satu ombak hilang ditelan pantai, datang berikutnya susul-menyusul.
Disinilah pentingnya untuk kita ketahui bahwa manusia akan selalu merasakan lelah dan bosan saat kehidupan ini terculik oleh sempitnya dunia ini. Apalagi memang dunia dijadikan sebagai tempat untuk berlelah. Tabiatnya lelah dan karenanya selama masih ada didalamnya pasti lelah.
Namun, kita bisa memperoleh kelegaan jika menanggapi dunia yang melelahkan ini dengan menanggalkan keangkuhan dan keegoisan, sikap bodoh terhadap pemahaman bahwa "semuanya sia-sia". Tapi manusia mesti sadar dan camkan bahwa kesalahan dunia ini dapat diluruskan hanya dengan berserah diri pada satu pribadi yang berkuasa dengan nilai-nilai kebajikan.
Seperti inilah harapan di hadapan dunia yang melelahkan di tanah emas. Perjuangan panjang di sepanjang jalan, terlepas dari rasa bosan yang mengintai dibawah permukaan. Tetap fokus, kerikil-kerikil di tengah perjalanan itu hanya bagian dari tabiatnya. Bukan kesulitan, apalagi penghalang. Memilih harapan jauh lebih baik daripada putus asa.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H