Akhir minggu lalu kami coba quality time dengan gowes. Â Saya ingin ke tempat yang membuat mata dan hati terasa sejuk dengan trek yang sedang.
Akhirnya rute pilihan jatuh dengan bersepeda ke Kapal Bosok. Nama yang unik bukan? Kapal Bosok, atau lengkapnya Taman Wisata Religi Masjid Kapal Bosok.
Destinasi  ini sempat viral di Serang  sebelum Covid 19 melanda. Pengunjungnya pun banyak yang berasal dari luar kota. Pada masa itu rasanya kurang hit kalau belum punya foto bersama di depan bangunan berbentuk kapal tersebut.
Tinggal di Kota Serang, rute gowes kami lurus ke barat menuju Simpang 4 Boru. Perjalanan kami teruskan sampai di gang menuju lokasi. Tepatnya di Kampung Derangong RT/RW 003/05 Kelurahan Curugmanis, Kecamatan Curug, Kota Serang.
Memasuki jalan menuju Kapal Bosok, kami langsung disuguhi suasana kmpung yang berbeda dari suasana pinggir jalan yang hiruk pikuk. Tak heran, Kapal Bosok menjadi salah satu destinasi favorit gowesers, termasuk saya.
Meskipun sudah diselingi beberapa model rumah modern, masih banyak dijumpai rumah perkampungan dengan halaman luas. Dihias rumput dan ditanami berbagai pohon buah.
Saya beruntung ketika ke sini sedang musim buah. Hampir di sepanjang perjalanan kami dinaungi pohon-pohon rambutan yang sarat buahnya. Di awal masuk gang, sesekali roda sepeda kami berkelit dari serakan buah kecapi di jalan. Asyik, kan?
Mendapatkan suasana kampung merupakan salah satu bonus dari rute ini. Hadiah utamanya, tentu berkunjung ke Masjid Kapal Bosok.
Setelah menyusuri 3,8km jalan kampung, sampailah kami di lokasi. Sesuai namanya, Kapal Bosok merupakan bangunan tiga lantai berbentuk perahu besar. Didirikan tahun 2014-2017.
Bosok (bahasa Jawa) berarti busuk. Bangunan berbentuk kapal 4 lantai ini didominasi nuansa hijau dan biru. Kapal Bosok bukan merupakan sebuah masjid, melainkan simbol atas cerita perjuangan Ki Abdullah Angga Derpa.
Dikutip dari detiktravel, Â sekitar abad ke 16 datang kapal Belanda ke pelabuhan Karangantu, Serang. Mereka ingin menjajah dan mengambil dokumen dan harta kekayaan Banten.
Seorang ulama bernama Ki Angga Derpa tidak terima dengan perlakuan Belanda. Ia mengadakan perlawanan. Belanda marah. Ki Angga Derpa ditangkap dan dihukum di kapal yang berisi dokumen penting tersebut.
Kapal itu kemudian terdampai hingga  daerah Curug, di tempat sekarang. Tempat yang jauh dari pesisir pantai.
Ki Angga Derpa kemudian mengambil cambuk dan memukulkan ke kapal.
"Kapal dicambuk. Kapal, sira dicambuk bosok salawase (kapal, kamu dicambuk busuk selamanya)." Demikian kira-kira nama Kapal Bosok berasal.
Anda bisa menjumpai makam Ki Angga Derpa di sini. Dari parkiran, Anda dapat langsung mendapati lokasi makam. Tepatnya di sebelah kiri pintu masuk. Di waktu-waktu tertentu, tempat ini ramai dikunjungi peziarah.
Jadi, di  taman wisata religi ini terdapat bangunan Kapal Bosok, makan Syeh Abdullah Angga Derpa,  musola, dan kompleks pemakaman.
 Tempatnya adem, bersih, rapi. Tidak ada tiket masuk. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir mobil dan motor.
Jika lapar melanda, tak perlu khawatir. Di sekitar tempat wisata terdapat warung warung sederhana yang menjajakan kopi dan camilan. Kami juga menjumpai  sesama goweser yang beristirahat di sini.
Bagi Anda yang ingin  gowes, tempat ini cocok jadi pilihan. Lokasinya di antara lahan persawahan dan jalan masuknya menyempit, jadi trek yang asyik.
Penasaran? Coba deh ke sini. Nikmati suasana kampung sekaligus menelusuri sejarah Ki Angga Derpa.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI