Remaja ini banyak juga yang men diagnosis dirinya sendiri, kebanyakan data yang saya ambil dari media sosial, mereka mudah memutuskan apa yang terjadi padanya, padahal belum tentu memang itu yang mereka alami. Pemikiran negatif adalah penyebabnya. Contoh self diagnoses "Dari kemarin, kok, mood-ku tidak stabil, ya? Jangan-jangan aku bipolar, nih!" Coba diingat-ingat, apakah kamu pernah berpikir seperti itu? Jika iya, hati-hati, ya. Self diagnosis justru bisa berdampak buruk bagi kesehatanmu (alodokter)
Membuat diagnosis tidak mudah. Diagnosis dibuat berdasarkan analisis menyeluruh dari gejala, riwayat medis, faktor lingkungan, dan temuan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan. Tidak jarang diperlukan beberapa pemeriksaan lanjutan dan pengamatan mendalam untuk mengetahui apakah ada masalah dengan kondisi fisik atau mental. Diagnosis Mandiri Sangat mudah untuk melewatkan faktor-faktor penting ini, sehingga Anda akhirnya akan membuat diagnosis yang salah. Juga, jika informasi yang diberikan kepada Anda berasal dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Ketahuilah bahwa jika Anda memiliki satu atau dua gejala penyakit, itu tidak berarti Anda mengidap penyakit tersebut. Belum lagi, ada banyak penyakit dengan gejala serupa.
Kesimpulan nya, kita sebagai remja harus lebih berfikir positif dan jangan mudah termakan hoax di internet, karena belum tentu benar adanya. Selalu berkonsultasi kepada dokter, dan jangan gegabah mengambil keputusan yang bahkan bukan bidang nya.
Â
Daftar Pustaka
cyberchondria (White & Horvitz, 2009); (Kim & Kim, 2009); (alodokter)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI