Selamat malam wahai dingin, lahap penatku malam ini.Â
"Merantaulah, tapi ingat pulangmu dirindukan," kata temanku, Edy.Â
Banyak hari yang menyaksikan jalan panjang ini. Beribu langkah telah membawa ke fase kehidupan saat ini. Wahai dingin malam ini, tolong bawa kabar tentang dia, tentang akhir langkah ini.
Kepala ini telah penuh asa dan cita, bahkan melahirkan keinginan baru dalam sebuah impian yang belum kesampaian. Rumit serumit-serumitnya, tanpa jelas awal akhirnya.Â
Aku merantau pada pagi dan sore hidup ini. Bahkan aku juga belum tau, apakah ini akan menyita juga tidur pulasku di malam hari. Dan, kenyataan menyadarkan bahwa benar, malam ini aku masih merantau.Â
Pada suatu malam di peraduan ini, kumulai mencatat lagi, mulai mengingat kembali dan belajar melepaskan dia [asa] yang jauh di timur matahari.Â
****
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H