Mohon tunggu...
shahruh Ali
shahruh Ali Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Shahruh Ali adalah seprang mahasiswa Telkom University yang mengambil studi S1 Ilmu Komunikasi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Fosil Bunga Karang Unik: Moluska

12 November 2023   21:36 Diperbarui: 12 November 2023   22:23 147
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Moluska ialah suatu kelompok hewan yang memiliki berbagai macam ragam di plane ini, terhitung sekurang-kurangnya terdapat 50.000 spesies hidup. Yang mana moluska ini mencakup organisme yang cukup dikenal seperti siput, gurita, cumi-cumi, kerang, karang, tiram dan kiton. Secara bentuk moluska ini dikenal sebagai sekelompok organisme yang secara garis besar memiliki tubuh lunak juga memiliki daerah “kaki” dan “kepala”, selain itu sering sekali moluska pada bagian tubuhnya ditutupi oleh adanya kerangka luas yang keras layaknya cangkang siput dan kerang.

Mollusca adalah hewan inveterbrata yang berarti tidak memiliki kerangka, tidak memiliki tulang belakang, memiliki tubuh yang lunak, dan termasuk hewan yang berdarah dingin. Tubuh Mollusca terdiri dari tiga yaitu kepala, mantel, dan kaki otot. Mollusca termasuk hewan hidup secara heterotrof dengan memakan ganggang, udang, ikan atau pun sisa organisme. Mollusca umumnya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik dan berperan sebagai indikator lingkungan, kebanyakan hidup di daerah perairan dan menempel pada batu atau pada permukaan lain (Ariani et al., 2019)

Dalam sejarah moluska ini menjadi salah satu makhluk yang penting bagi manusia karena pada dasarnya makhluk tersebut menjadi sumber makanan, perhiasan, peralatan dan juga hewan peliharaan. Salah satu contohnya ialah , di pesisir Pasifik California, penduduk asli Amerika mengonsumsi abalon dan terutama keong burung hantu dalam jumlah besar. Disisi lain ini juga memberikan dampak ialah makhluk moluska ini menjadi makhluk yang langka karena adanya pemanenan secara berlebihan.

Adapun dalam sebuah penelitian, dengan adanya penemuan fosil Moluka ini menjadi sebuah sumber infomasi yang sangat berharga. Umumnya, penemuan fosil yang telah dilaporkan lalu akan dibaca dan ditelurusi asal-usulnya yang kemudian akan dijadikan suatu ekspedisi yang dilakukan untuk mengumpulkkan spesimen-spesimen dan menjawab berbagai pertanyaan tentang bentuk-bentuk kehidupan pada masa purba serta lingkungannya dalam skala geologi.

 

Penemuan Fosil  

Fosil banyak ditemukan di Bandung, hal ini berkaitan dengan adanya pembentukan danau Purba. letusan Gunung Sunda terjadi beberapa kali yang terbagi menjadi 13 episode antara 210.000 -- 120.000 tahun yang lalu. Lontaran material dari letusan Gunung Sunda terbesar tercatat mencapai 66 Km3 hingga menutupi kawasan sejauh 200 km2.

Besarnya lontaran material tersebut menyebabkan Gunung Sunda kemudian runtuh kedalam, sehingga membentuk sebuah kaldera seluas 6,5 x 7,5 Km dan membendung aliran sungai Citarum Purba di Utara Padalarang. Inilah awal mulai dari Danau Bandung Purba yang membentang dari Cicalengka hingga Padalarang serta dari Dago ke perbatasan Soreang dan Ciwidey.

Proses surutnya Danau Bandung Purba di mulai pada masa Neolitikum, diperkirakan terjadi sekitar 16.000 tahun yang lalu secara bertahap selama berabad-abad. Penyebab dari penyusutan danau ini dikarenakan terjadinya gempa bumi dan tanah longsor antara Curug Cukangrahong dan Curug Halimun, sehingga memungkinkan air danau yang terbendung untuk mengalir keluar dan meninggalkan cekungan yang kini menjadi Cekungan Bandung.

Sebelum penyusutan Danau Bandung Purba terjadi, keberadaan Danau Purba ini telah menjadi habitat bagi kelangsungan mahluk hidup disekitar. Terbukti dari banyaknya penemuan fosil yang menandakan adanya kehidupan seperti penemuan berbagai kumpulan fosil Moluska alias kerang-kerangan (Hanifa, 2023)

Masalah dan Solusi untuk Fosil Karang Bunga pada Museum Sribaduga Bandung

Salah fosil yang ada di museum Sribaduga Bandung ialah fosil karang bunga atau disebut dengan Parahigginsia Sp. Fosil ini termasuk pada famili Desmoxyidae dengan kelas Demospongia. Yang mana fosil ini ditemukan di Ciamis.

Merujuk pada observasi yang telah dilakukan pada museum Sribaduga baik dengan observasi langsung dan wawancara ditemukan sebuah masalah bahwa untuk fosil terkait moluska ini tidak cukup diminati oleh pengunjung. Hal ini terdapat beberapa alasan selain emang karena adanya prefensi pribadi, museum memiliki keterbatasan ruang dan display karena pada dasarnya untuk fosil sebuah museum perlu memiliki ruang yang besar untuk dapat menyorot detail dan kompleksitas dari sebuah fosil. Selain itu tidak banyak yang dijelaskan pada terkait fosil ini (Zuhdi, 2023).

Adapun terkait masalah tersebut, solusi yang dapat diberikan ialah sebagai berikut :

1. Menciptakan adanya elemen interaktif seperti layar sentuh, animasi atau model tiga dimensi yang mana ini akan melibatkan pengunjung dalam partisipasi aktif.

2. Pihak museum dapat mengembangkan penyampaian informasi dengan menggunakan teknologi yang menarik. Seperti video, proyeksi ataupun VR yang membawa fosil menjadi hidup.

3. Kembangkan narasi yang menarik di sekitar fosil-fosil tersebut. Ceritakan kisah evolusi atau peran fosil dalam pemahaman kita tentang sejarah bumi dan kehidupan.

4. Kerja sama dengan sekolah atau institusi pendidikan untuk mengadakan kunjungan lapangan atau program pendidikan di museum. Selain itu buat materi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk mempersiapkan siswa sebelum atau sesudah kunjungan mereka ke museum.

Dengan demikian besar harapan solusi yang kita berikan dapat memberikan peningkatan terhadap museum Sribaduga khususnya terkait fosil karang bunga.

Referensi

Ariani, D., Swasta, J., & Adnyana, B. (2019). Studi Tentang Keanekaragaman dan Kemelimpahan Mollusca Bentik serta Faktor-Faktor Ekologis yang Mempengaruhinya di Pantai Mengening, Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha, 6(3), 146–157. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPB/article/view/21986

Hanifa, K. N. (2023). Sejarah Keanekaragaman Fosil Moluska di Wilayah Bandung. 1–6.

Siput, L., Mollusca, L., Rika, K., California, P., & Serikat, A. (2023). Moluska https://ucmp-berkeley-edu.translate.goog/taxa/inverts/mollusca/mollu... Inggris Indonesia. 1–4.

Zuhdi, M. H. (2023). Memahami Sejarah dan Budaya Sunda di Museum Sri Baduga Bandung Memahami Sejarah dan Budaya Sunda di Museum Sri Baduga Bandung. 1–5.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun