Mohon tunggu...
Shafira Rixas Febriana
Shafira Rixas Febriana Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammdiyah Jakarta

kunci sehat satu, jangan sakit :)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Menjadi Generasi Z yang Tangguh : Pengalaman Mengikuti Seminar " Memecah Stereotip Strawberry Generation"

23 Januari 2025   14:46 Diperbarui: 23 Januari 2025   14:46 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://pin.it/2gSs31FdE

Pada 22 Januari 2025, sebuah seminar yang mengangkat tema "Memecah Stereotip Strawberry Generation" digelar untuk menggali lebih dalam tentang karakteristik, tantangan, dan potensi yang dimiliki oleh Generasi Z. Dalam beberapa tahun terakhir, generasi ini sering disematkan dengan label "Strawberry Generation", yang mengacu pada anggapan bahwa mereka mudah rapuh, sensitif, dan kurang tahan terhadap tekanan hidup. Namun, seminar ini bertujuan untuk mengubah pandangan tersebut dengan menyajikan perspektif yang lebih seimbang dan positif tentang Gen Z.

Melalui diskusi yang mendalam, ada pembicara yang terdiri dari dosen Fisip yaitu Ibu Velda Ardia, S.I.Kom., M.Si  dan pembicara Ka Safitri Herra S.Pd. Seminar ini tidak hanya akan membahas stereotip yang ada, tetapi juga menyelidiki kontribusi Gen Z terhadap perubahan positif di berbagai sektor, serta bagaimana mereka dapat memanfaatkan potensi mereka untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi para peserta untuk lebih memahami dan menghargai generasi ini, seminar ini menjadi titik awal untuk meruntuhkan stigma negatif yang sering tersemat pada Gen Z. Mari kita lihat bagaimana perspektif yang lebih luas dan inklusif dapat membantu kita melihat potensi luar biasa yang ada dalam diri Strawberry Generation.

Ada beberapa pembahasan yang saya ambil dari ibu Velda ialah tentang Psikologi Komunikasi George A. Miller mengartikan psikologi komunikasi sebagai "ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral (perilaku) dalam komunikasi"

Dan juga tentang Berikut merupakan penjelasan singkat mengenai ruang lingkup psikologi komunikasi:

1. Persepsi Komunikasi : Persepsi komunikasi merujuk pada cara individu menafsirkan dan memahami pesan yang diterima selama interaksi. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap informasi yang masuk, yang dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, dan berbagai faktor psikologis lainnya.

2. Emosi dalam Komunikasi : Emosi memiliki peran yang signifikan dalam proses komunikasi, karena perasaan dapat memengaruhi cara seseorang menyampaikan maupun menerima pesan dari orang lain. Emosi yang intens, seperti kemarahan, kebahagiaan, atau kesedihan, sering kali berdampak pada tingkat pemahaman dan efektivitas komunikasi.

3. Motivasi dalam Berkomunikasi : Motivasi untuk berkomunikasi adalah alasan atau dorongan di balik keinginan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Baik motivasi pribadi (seperti keinginan untuk diterima atau dihargai) maupun kebutuhan situasional (seperti kerjasama atau penyelesaian masalah) akan memengaruhi cara individu berkomunikasi.

4. Komunikasi Interpersonal : Komunikasi interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih dalam konteks hubungan pribadi, baik secara verbal maupun non-verbal. Aspek psikologis, seperti kepercayaan, empati, dan kecerdasan emosional, sangat memengaruhi kualitas interaksi ini.

Setelah kita mendengarkan tentang Psikologi Komunikasi, aku akan menjelaskan sedikit apa yang disampaikan oleh pembicara yaitu ka Herra yaitu Istilah "Strawberry Generation" sering digunakan untuk merujuk pada generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Konsep ini pertama kali muncul di Taiwan dan kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia. Sebutan ini tidak terlepas dari stereotip yang berkembang sehubungan dengan karakteristik generasi ini, baik dari segi psikologi, perilaku, maupun pandangan hidup mereka. Namun, apakah sebutan ini benar-benar tepat? Mari telusuri lebih dalam.

1. Rentan Seperti Buah Stroberi : Salah satu alasan mengapa Gen Z disebut sebagai Strawberry Generation adalah anggapan bahwa mereka lebih sensitif dan mudah terpengaruh oleh tekanan atau stres dibandingkan generasi sebelumnya. Buah stroberi, yang memiliki kulit lembut dan mudah rusak, dijadikan metafora untuk menggambarkan generasi ini yang dinilai lebih rentan terhadap masalah emosional dan mental. Banyak orang berpendapat bahwa Gen Z cepat merasa tertekan oleh ekspektasi sosial, tantangan akademik, atau bahkan media sosial. Beberapa ahli psikologi dan sosiologi mencatat bahwa generasi ini lebih cenderung merasa terisolasi atau kesulitan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang dianggap lebih tangguh.

2. Dorongan Terhadap Kenyamanan dan Kestabilan : Generasi Z juga cenderung mengutamakan kenyamanan dan kestabilan dalam kehidupan mereka. Dengan tumbuh di era yang sangat berbeda, terutama karena kemajuan teknologi yang cepat dan akses informasi yang luas, mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap kualitas hidup dan cenderung tidak menyukai situasi yang sulit atau penuh tantangan. Sebagai contoh, banyak Gen Z yang memilih jalur karier atau pendidikan yang lebih fleksibel, memberikan mereka ruang untuk berkembang secara pribadi. Mereka lebih suka menghindari pilihan yang konvensional atau memaksakan diri. Dalam hal ini, istilah "strawberry" mencerminkan preferensi mereka untuk menjauh dari kehidupan yang keras atau penuh tekanan berlebihan.

3. Keterbukaan Terhadap Kesehatan Mental dan Emosional : Generasi Z juga lebih terbuka dalam membahas masalah kesehatan mental dan emosional mereka. Berbeda dari generasi sebelumnya yang mungkin lebih memilih untuk menyembunyikan isu-isu tersebut, mereka kini lebih berani mencari bantuan dan berbicara tentang stres, kecemasan, atau depresi. Penekanan pada kesehatan mental dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan yang seimbang. Perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental ini terkadang dipandang sebagai tanda ketidakmampuan mereka dalam menghadapi tekanan, yang bisa menjelaskan mengapa mereka disebut sebagai "Strawberry Generation. "

4. Keinginan untuk Kehidupan yang Seimbang :Selain itu, Gen Z dikenal karena keinginan mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih seimbang antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan waktu luang. Banyak yang mendambakan fleksibilitas dalam pekerjaan atau studi agar bisa mengejar passion atau minat pribadi, bukan sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Generasi ini lebih menghargai kebahagiaan dan kesejahteraan pribadi daripada kesuksesan materiil semata. Hal ini mungkin terlihat sebagai pencarian kenyamanan yang berlebihan, yang bisa menjelaskan mengapa mereka dianggap lebih lemah dibandingkan generasi sebelumnya yang lebih fokus pada pencapaian dan ketahanan.

5. Persepsi yang Berbeda tentang Ketangguhan : Terakhir, cara pandang Generasi Z tentang ketangguhan mungkin juga berbeda. Mereka lebih cenderung untuk mendefinisikan ketangguhan dalam konteks kesehatan mental dan kesejahteraan, bukannya hanya dalam hal pencapaian dan ketahanan fisik. Dengan semua hal ini, penting untuk mengenali bahwa istilah "Strawberry Generation" mencerminkan pandangan yang kompleks dan beragam tentang generasi Z. Meskipun ada tantangan yang dihadapi, ada juga banyak kelebihan dan kekuatan yang perlu diapresiasi.

Meskipun banyak kritik yang ditujukan pada stereotip ini, penting untuk memahami bahwa ketangguhan tidak selalu diukur dari seberapa besar seseorang mampu mengatasi kesulitan atau tantangan hidup. Ketangguhan juga mencakup kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan cara yang sehat dan positif. Hal ini terlihat pada banyak individu di generasi Z, yang tidak hanya bertahan dalam situasi sulit, tetapi juga berupaya menciptakan perubahan positif, baik dalam diri mereka sendiri maupun di lingkungan sekitar.

Sebagai penutup, kita perlu menyadari bahwa komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan juga merupakan proses yang melibatkan emosi, persepsi, dan motivasi yang mendalam. Dengan memahami elemen-elemen psikologis yang berperan dalam komunikasi, kita dapat meningkatkan kualitas hubungan interpersonal serta menciptakan interaksi yang lebih efektif dan harmonis. Stereotip terhadap generasi tertentu, seperti istilah "Strawberry Generation", hanyalah mencerminkan sebagian kecil dari realitas yang ada. Generasi Z, seperti halnya generasi lain, memiliki kekuatan dan potensi luar biasa untuk membawa perubahan positif di dunia. Oleh karena itu, mari kita mulai merubah cara kita berkomunikasi, saling memahami, dan menghargai keberagaman pengalaman yang membentuk setiap individu.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun