Mohon tunggu...
Arum Sato
Arum Sato Mohon Tunggu... content writer -

pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Potret Tujuhbelasan di Jalanan, Sebelum Agustus Menjelang

17 Agustus 2015   03:35 Diperbarui: 17 Agustus 2015   03:35 64
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Merah Putih dalam Sejarah

Dan entah sejak kapan, warna merah putih telah dan selalu digunakan dalam selamatan pada tradisi jawa. Ibu saya, rutin membuat selamatan weton untuk bapak saya, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sing Nggawe Urip, dan sekaligus sebagai doa supaya dalam mencari nafkah keluarga, bapak senantiasa dalam lindungan-Nya.

Warna merah putih (dalam bahasa Jawa disebut abang putih) di wujudkan dalam bentuk makanan yaitu jenang atau bubur. Jenang abang dan jenang putih. Makanan berbahan dasar tepung beras tersebut selalu ada dalam selamatan weton. Ada juga dalam selamatan untuk wanita hamil usia kehamilan menginjak empat bulan.

Jenang abang, terbuat dari jenang putih yang diberi gula aren atau bisa juga gula merah. Nah, jenang putih sendiri adalah jenang sumsum. Satu lagi jenang simbol merah putih, yaitu jenang sengkolo yang menjadi bagian dari selamatan weton. Ada dua jenis jenang sengkolo. Pertama adalah jenang merah yang atasnya diberi sedikit jenang putih, dan jenang putih yang diatasnya diberi jenang merah.

Menurut ibu saya, makna dari jenang sengkolo adalah sebagai harapan untuk bisa terlepas dari segala mara bahaya dan juga kesialan dalam mengarungi kehidupan. Itu makanya, ibu bapak tidak membolehkan kami mengonsumsinya. Ketika ditanyakan alasannya, beliau hanya bilang nggak boleh, itu juga yang dipesan oleh mbah-mbahnya dulu. Makanya ibu selalu membuat jenang sumsum agak banyak. Dengan di tambahi juruh (kuah dari gula aren), kami biasa menyantapnya.

70 Tahun Merah Putih

Hawa Peringatan Kemerdekaan Indonesia kali ini lebih hangat. Apa karena angka genap, saya kurang paham. Namun yang jelas, di mana-mana, di hampir semua jalanan terpasang umbul-umbul merah putih, dan gang-gang di Jakarta terpasang replika-replika mini Sang Dwiwarna, berbahan kain maupun plastik. Luapan kegembiraan kah? Kegembiraan atas apa? Saya masih mencari jawabannya.

Ketika sudah 70 tahun kemerdekaan di raih Indonesia. Namun masih banyak rakyatnya yang belum sejahtera. Masih banyak persoalan-persoalan teknis yang belum terurai. Persatuan bangsa masih saja tercerai-berai. Sampai kapan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia tercapai. Entahlah.

Namun, untuk menambah kehangatan peringatan kali ini, perkenankan saya ikut memberi selamat, kepada tanah air pertiwi ini. Juga kepada seluruh rekan Kompasianer, Selamat merayakan Kemerdekaan Indonesia Tercinta yang ke-70. semoga Indonesia semakin membaik. (Apakah sedang sakit? Entahlah)

Jakarta, 17 Agustus 2015

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun