Namun, bekal ibuku telah terpatri dalam relung kalbuku. Menjadi sebuah penghias kala nestapa merundung maupun kala riang gembira. Bahkan sebuah amanah untuk sebuah tanggungjawab. Tanggungjawab untuk melangkah dan mempertahankan hidup. Mungkin juga sebuah bekal untuk memacu semangat. Seperti pecut untuk mencemeti sebuah harapan yang membentang didepan.
“Seruni,, benar kamu punya Ijazah SLTA!” Ibu Ratih tiba – tiba berada di belakangku sewaktu aku sedang memasak sayuran buat makan malam ibu Ratih sekeluarga.
“Iya, punya ibu!”jawabku
“Di kantor Bapak membutuhkan tenaga sekertaris. Bapak menanyai kamu, kalau kamu bersedia!” Lanjut ibu Ratih dengan sikap penuh wibawa.
“Tapi Bu. Pekerjaan saya di sini nantinya terbengkalai”
“Ibu dan bapak sudah pikirkan. Kamu bersedia kan!”
“Bersedia Bu!”
“Besok, ibu akan menjemput ibu kamu menggantikan pekerjaan kamu di sini. Dan kamu mulai besok pagi mulai kerja di kantor bapak, ya Seruni” Suara ibu Ratih terdengar penuh welas asih.
Seperti gong yang menabuh tarian perjuangan. Perjuangan yang selama ini lelap terbelenggu rantai – rantai yang kaku. Seakan belenggu itu lepas seketika. Dalam benakku. Pigura ayah ibuku sedang dalam tersenyum menatapku. Menatap gadis kampung yang belum mengenal atas kicauan sang murai diranting dahan pohon gaharu. Atau berkoar – koar sang Gagak di tanah tandus, yang melihat bangkai – bangkai ternak yang mati kehausan.
Hatiku bagai bersenandung. Dengan kidung merdu menjilati sukmaku. Yang terbang tinggi dipuncak Mahameru. Bersama Rajawali sakti aku memunggunginya. Lalu kembali ke bumi yang ditilam sehamparan sutra. Diselimuti dengan kabut – kabut tipis dari puncak Himalaya. Kabut masa silam. Aku tidak bermimpi. Tapi perjalanan ini masih sangat jauh. Aku ingin segera tiba. Tapi perlahan untuk sebuah kepastian. Ya, kepastian.
“Seruni, kamu melamun!” Arya menepuk punggungku.