Mohon tunggu...
Septiandra
Septiandra Mohon Tunggu... Wakil Pialang PT. Millennium Penata Futures -

Hanya pembaca biasa yang mencoba untuk ikut bersuara... Maksud saya, ikut menulis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Fenomena Asal Tuding

2 Maret 2016   12:14 Diperbarui: 2 Maret 2016   17:24 998
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

 

[caption caption="http://www.solopos.com/"][/caption]Saya pernah bercerita tentang ‘Internet’ di artikel pertama saya tulis di sini dan bagaimana perjalanan dan perkembangan para penggunanya hingga saat ini. Kali ini saya ingin sedikit membahas fenomena yang paling sering saya lihat di media sosial, yang kebetulan sampai saat ini media tersebutlah yang paling lama saya gunakan. Tidak perlu saya sebutkan nama media sosialnya, agar tidak menjadi ajang promosi.

Setiap harinya, saat sarapan, makan siang, cemilan menjelang sore, istirahat menjelang malam, makan malam, dan sampai sebelum tidur, saya memperhatikan beberapa teman saya yag cukup aktif membagikan pengalamannya di media sosial tersebut. Sebagian dari mereka melakukan promosi barang-barang yang mereka jual, ada juga yang promosi bisnis, tidak sedikit pula yang promosi kegiatan beragama. 

Belum lagi saya sebutkan mereka-mereka yang gemar politik, atau hobi mereka-reka peristiwa. Sangat beragam kegiatan yang dapat saya lihat sepanjang waktu saya memperhatikan media tersebut melalui ponsel saya. Tidak perlu saya sebutkan merek ponselnya, agar tidak menjadi ajang promosi.

Dari sekian banyak hal yang dibagikan di media sosial tersebut, kebetulan ada satu hal yang paling menarik bagi saya untuk saya soroti. Fenomena asal tuding, demikian saya menamakannya (semoga saja nama ini menjadi populer, dan saya yang menjadi penggagasnya).

Awal Maraknya

Di awal masa saya menggunakan media sosial ini bisa dikatakan suasananya masih sangat damai, nyaris tidak ada pergesekan sosial yang terjadi. Media sosial ini masih berfungsi hampir sepenuhnya sebagai sarana untuk bersua dengan teman-teman lama yang mungkin saat ini sedang berjauhan tempat tinggalnya. Seiring berlalunya waktu, semakin banyak yang memanfaatkan media sosial ini sebagai alat untuk berbagai tujuan.

Terhitung sejak 2013, semakin hari semakin ramai pergesekan sosial yang muncul di media sosial ini. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah penggunanya yang semakin ramai, sehingga ada beberapa pihak yang menyadari bahwa media ini dapat digunakan sebagai alat. Masing-masing pihak yang menggunakan media sosial ini sebagai alat lah yang, menurut pengamatan saya, pada akhirnya membuat para pengguna media sosial ini saling bergesekan. Tidak perlu saya sebutkan apa saja yang bergesek, agar tidak menjadi ajang promosi

Pembagian Kategori

Dari setiap pergesekan, yang paling saya perhatikan adalah tudingan yang muncul. Macam-macam tudingan tertulis di media sosial ini, masing-masing punya alamat tertuju, khususnya orang yang dianggap sebagai lawan dari tujuannya menggunakan media sosial. Perhatikan saja beberapa tudingan ini:

  1. Jika seseorang itu dianggap sebagai lawan politik, tudingan yang sering muncul adalah: pembohong, pencitraan, penindas, dan sebagainya.
  2. Jika seseorang itu dianggap sebagai lawan dari kegiatan agamanya, tudingan yang sering muncul adalah: kafir, laknat, sesat, dan sebagainya.
  3. Jika seseorang itu dianggap sebagai lawan bisnisnya, tudingan yang sering muncul adalah: penipu, bisnis bodong, barang palsu, dan sebagainya.
  4. Jika seseorang itu lawan jenis kelaminnya dan ada unsur sakit hati, tudingan yang sering muncul adalah: pemberi harapan palsu, tidak punya hati, dan lain sebagainya

Masih banyak lagi tudingan-tudingan lain yang belum saya sebutkan, dan masing-masing memiliki kategorinya sendiri berdasarkan tujuannya. Ada juga tudingan yang dialamatkan kepada saya di media sosial ini, tidak perlu lah saya sebutkan kata tudingan tersebut agar tidak menjadi ajang promosi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun