Mohon tunggu...
Semuel S. Lusi
Semuel S. Lusi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Belajar berbagi perspektif, belajar menjadi diri sendiri. belajar menjadi Indonesia. Belajar dari siapa pun, belajar dari apapun! Sangat cinta Indonesia. Nasionalis sejati. Senang travelling, sesekali mancing, dan cari uang. Hobi pakai batik, doyan gado-gado, lotek, coto Makasar, papeda, se'i, singkong rebus, pisang goreng, kopi kental dan berbagai kuliner khas Indonesia. IG @semuellusi, twitter@semuellusi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Belajar Toleransi dari Keluarga Mbah Mardi di Salatiga

28 Agustus 2016   14:18 Diperbarui: 30 Agustus 2016   08:09 10958
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mbah Amin (Siti Aminah) berbaring tenang dan damai di antara kuburan lainnya yang beragama Islam (Foto: DOKPRI)

Guru, dalam pengertian orang yang bijak dan berpengetahuan. Jawaban mbah Mardi membuat saya menyadari betapa banyak orang terlihat begitu taat beragama, baik dari cara berpakaian, mengenakan simbol-simbol agama, keseringan menggunakan atau mengutip ungkapan-ungkapan religius, rutin mengikuti ibadah agama, namun perilaku kesehariannya diwarnai sikap-tindak yang bersebarangan dengan inti atau substansi ajaran agama itu sendiri. Pandangan mbah Mardi menegaskan bahwa yang artifisial mengalir ke substansi. Mirip pemikiran filsuf eksistensialis Soren Kierkegaard, bahwa eksistensi mendahului substansi. Namun, substansi menjadi sumber keterarahan. Substansi menjadi pusat orientasi keber-agama-aan, maka orang yang sudah menyelam di kedalaman substansi tidak harus menjangkarkan diri pada kedangkalan artifisial. Tidak ada gerak-balik!

Mbah Mardi sesungguhnya orang yang jarang bercakap, bahkan juga dengan anak-anak dan cucunya. Ia hanya berbicara seperlunya, namun wajahnya cerah dengan senyum yang selalu menghias. Seolah-olah itulah bahasa khas mbah Mardi.  Maka, meski dengan sebuah ungkapan pendek lewat ungkapannya di atas, bagi saya merupakan pancaran cahaya dari dalam diri mbah Mardi yang menerangkan kedalaman kearifan dan spiritualitas agungnya.

Di hari raya, baik bulan Puasa, Idul Fitri, Natal, maupun Paskah, keluarga besar mbah Mardi berkumpul. Anak-anak dan cucu-cucu, juga cicit. Ini cukup mudah karena selain anaknya yang tinggal di Biak, kebanyakan menetap di rumah. Memang seorang anaknya menetap di Jogja, dan satu lainnya lagi di Salatiga (bukan di rumah mbah Mardi), namun sudah menjadi tradisi untuk berkumpul. Mungkin persis ungkapan, "mangan ora mangan sing penting kumpul."  

Di bulan puasa, meski mbah Amin, istri mbah Mardi beragama Kristen, mereka semua mempersiapkan makanan berbuka. Kerap mereka semua berpuasa, atau beberapa anak yang bukan beragama Islam ikut berpuasa. Tidak pernah direncanakan melainkan berlangsung spontan saja. 

Idul Fitri dirayakan dengan meriah, tentu untuk ukuran mereka. Kami juga ikut memeriahkannya. Demikian pula, di hari raya Paskah atau Natal, semua ikut merayakan. Seakan, semua hari raya besar agama merupakan hari raya bersama di keluarga mbah Mardi.

Sebuah moment menarik adalah ketika mbah Amin meninggal dunia tanggal 19 Agustus 2016.  Setelah tiga hari tidak sadarkan diri di ICU RSD Salatiga membuat keluarga, meski dirundung kesedihan,  mulai menangkap signal lemah akan kepergian perempuan kurus dengan berat badan tidak pernah lebih dari 40 kg selama hidupnya, namun  mampu melahirkan sebelas orang anak bagi mbah Mardi dan masyarakat Indonesia.

Sekitar pukul 22.00 saya dan istri baru pulang jenguk di ICU. Pukul 23.45 Istri saya di-SMS bahwa mbah Amin sudah pergi untuk selamanya. Karena hanya kami bertiga, dan sudah larut malam saya tinggal bersama Faith sementara istri langsung ke RS untuk membantu berbagai urusan yang bisa dilakukannya. Ketika jenazah tiba di rumah, mbah Mardi menatap dan menjamah tubuh kaku istrinya sambil tak henti-hentinya melatumkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Suasana menjadi khusuk tetapi juga sangat emosional.

Mbah Mardi terlihat cukup terpukul namun tetap tenang. Keluarga ini menghadapi kedukaan yang amat. Kecuali Tini yang masih di Biak, semua anak telah berkumpul sejak mbah Amin masuk ICU.  Tidak sampai sejam kemudian, Tony telah menyalakan audio dan terdengar instumentalia bernuansa taize atau semacam “doa arwah” yang menghadirkan suasana permenungan. Mungkin sejenis instrumentalia requiem dalam tradisi Katolik. Tetangga, yang sebagian besar juga masih hubungan famili dan beragama Islam pun mulai berdatangan.

Ibadah syukur untuk penguburan secara tradisi Kristen direncanakan pukul 10.00. Maka, mulai pukul 08.00 persiapan dan lagu-lagu pop rohani khas Protestan terdengar mengalun menggantikan instrumentalia. Para tetangga dan pengurus RT/RW pun membawa kursi dan ikut berpartisipasi mempersiapkan tempat duduk bagi umat dan semua yang akan mengikuti ibadat perkabungan dan penguburan jenazah.

Sidang perkabungan banyak dihadiri oleh orang-orang UKSW, juga pendeta dan orang-orang gereja dari GPIB Tamansarai Salatiga. Antara lain terlihat hadir Prof.John Titaley,Th.D, Rektor UKSW bersama istrinya, Pembantu Rektor 5  UKSW, DR.Neil S.Rupidara, bersama istri, juga Dekan FTI UKSW DR.Darma Palaikahelu bersama istri, dan lainnya. Ini tidak mengherankan.  

Kakaknya Yani, yaitu Yuli untuk waktu yang lama bekerja di rumahnya keluarga DR.Darma. Yuli-lah yang paling telaten merawat ibu mbah Amin  yang memang sudah lama sakit-sakitan.  Nunik, anak lainnya juga bekerja di rumah dosen UKSW.  Mbah Amin sendiri dulu juga bekerja di rumah dosen UKSW, kakaknya bekerja pada pendeta Poter untuk waktu cukup lama. Keluarga ini pekerja ulet dengan reputasi yang sangat baik. Itulah sebabnya, di mana pun mereka bekerja selalu bisa diandalkan, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga. Mereka loyal dengan pekerjaan. Loyalitas dan kejujuran merupakan bagian dari nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh mbah Mardi dan mbah Amin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun