Seperti dikutip Tempo.Co pernyataan resmi ISIS melalui medianya Amaq, Mohamed Lahouaiej Bouhlel merupakan prajurit ISIS. Karenanya ISIS menyatakan bertanggungjawab atas teror berdarah di kota Nice itu. “Dia menjalankan operasi itu dengan sasaran orang-orang dari berbagai negara yang menentang ISIS,” demikian ISIS dalam pernyataannya yang dikutip Guardian, Sabtu 16 Juli 2016 (Tempo.co). Dan, sebagaimana kita ketahui, ISIS memiliki cita-cita mendirikan negara Islam. Maka, nilai-nilai perjuangan mereka memiliki dasar-dasar yang mereka anggap sebagai “Islami.”
Dalam pandangan partikular ke-Islam-an ISIS, sebuah negara khilafah seperti yang dicita-citakannya, mencakup seluruh dunia. Sebuah negara Islam atau mayoritas Islam bukanlah jaminan masuk dalam kategori ISIS. Itulah sebabnya, Suriah, Turki maupun Irak menjadi sasaran jangka pendek mereka, sebelum menyebar ke pelosok dunia lainnya. Ini antara lain terbukti, seperti dikutib dari status account twitter ISIS pasca tragedi Nice, “Oh Perancis, kalian dan seluruh Eropa tidak akan pernah aman hingga kami menguasai tiap inci tanah bagi kekalifahan,” (liputan6.com).
Persis pada cara pandang seperti itulah, didukung berbagai bukti metode kerja ISIS yang menebar teror bunuh diri dengan sasaran pusat keramaian, menghukum para sandera dengan cara dibakar hidup-hidup, dipenggal kepala, dan berbagai cara sadisme lainnya, kita menjadi pesimis terhadap sebuah “wajah tuhan” yang maha kasih, maha damai, rahmatan lil alamin, shalom, dan kesan serba-indah-damai-harmoni lainnya . Monopoli atas kebenaran, dan memaksakannya kepada dunia merupakan sebuah perampasan kebebasan autentik. Di sini kekhawatiran Jean-Paul Sartre (tentang tuhan sebagai negasi kebebasan manusia) mendapatkan dukungan empirik secara meyakinkan.
Di Perancis, 227 tahun lalu pertamakali digemakan pekikan kebebasan liberte, yang kemudian menggelora ke seantero dunia, lalu menginspirasi dan menjadi alat perjuangan politik di banyak negara. Liberte kemudian menjadi ikon politik berkeadaban.
Tetapi, di Perancis pula, tahun 2016, dunia menjadi saksi, betapa semangat kebebasan itu dicoba dihancurkan dengan teror berdarah, tepat di hari kelahirannya. Dan, sesungguhnya cara demikian lebih kejam dan jahat daripada sistem pemerintahan monarkhi absolut ala raja Louis IV sekalipun.
Benarkah Tuhan meniadakan kebebasan manusia? Benarkah tuhan telah menyerahkan “peta esensi” setiap orang kepada sekelompok orang, memberi otoritas absolut kepada mereka, untuk menghakimi dan menghukum dengan berbagai cara? Inikah gambaran wajah tuhan? Suasana surga? Jean-Paul Sartre mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal penuh olok-olok, atau mungkin mual dan muntah-muntah lantaran jijik melihat "tuhan" menyiksa dan mengancam kemanusiaan. Bagaimana dengan Anda?
Salam kompasiana!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H