Pagi itu, kampungku masih diguyur hujan, yang tak ada henti-hentinya dari semalam. Sesekali kilatan petir datang menambah suasana gelap dan dingin yang menusuk sampai ke dalam tulang. Aku masih duduk di sofa dengan secangkir kopi di atas meja dan handphone yang masih asyik dimainkan.
Â
Masih pukul 6. Kembali ku mainkan handphone dan sesekali memindahkan saluran televisi mencari tontonan yang menarik. Sarapan pagi itu hanya diawali dengan secangkir kopi, baru saja aku berniat membuat sarapan, tiba-tiba tersedak karena melihat jam di saluran televisi sekarang pukul 7.
Â
"Ya ampunnnnnnn...," Teriakku sambil bergegas berganti pakaian dan segera berangkat memakai payung hitam butut yang masih setia menemani di kala hujan. Sialnya gerbang sekolah sudah ditutup, dan dengan perasaan malu karena ada pedagang yang biasa berjualan menyapaku
Â
"Ibu baru datang?" Ucap Mang Ujang sambil tersenyum kecil.
Â
 "Iya mang," Sahutku. "Nunggu hujan gak reda juga" lanjut ku sambil membuka pintu gerbang. Perasaan malu dan kesal karena terlambat masuk 10 menit berkecamuk dalam diri.
Â
Saat itu murid-murid sudah duduk rapi dan tenang mengerjakan tugas. Entah oleh siapa mereka diberi tugas. "Assalamualaikum anak-anak". Sapaku kepada mereka.
Â
"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak "Yeeee... ibu sudah datang." Ucap Fahri.
Â
Sambil menyimpan tas ransel di atas kursi "Maaf yah anak-anak ibu terlambat masuk," imbuhku dengan senyum untuk menutupi malu. "Karena menunggu hujan reda tanpa ibu sadari ternyata sudah pukul 7 lewat," sambungku.
Â
Putri datang menghampiri dengan raut wajah terlihat kesal. Ia memang terkenal galak, kawan-kawannya selalu memanggilnya Kak Ros. Namun Ia tak pernah marah dengan panggilan itu.
Â
"Ibu kan pernah bilang ke kita waktu itu, jangan terlambat masuk ke sekolah, biar ada hujan angin harus berangkat lebih awal"
 "Padahal ibu sendiri yang bilang tapi malah ibunya sendiri yang terlambat," ucap Putri dengan sorotan mata elangnya dan nada ketus sambil berjalan kembali ke arah mejanya.
Â
Sontak batinku tertampar oleh celoteh yang baru saja kudengar. Menyadarkanku bahwasanya sebagai tauladan kita harus betul-betul memberikan contoh dan konsisten dalam menerapkannya.
Tanpa bisa berkata, Aku pun terdiam dan hanya bisa tersenyum sesaat menyadari kesalahan hari itu. "Terima kasih, Nak," gumamku dalam hati.
Â
Â
SLA pecinta kopi hitam tanpa gula.
2023
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI