Jika politik uang terus mendominasi, Sumenep berisiko mengalami stagnasi dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Pemimpin yang terpilih melalui politik uang cenderung fokus pada kepentingan pribadi atau kelompoknya, daripada kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperburuk ketimpangan sosial dan memperlemah partisipasi politik masyarakat.
Sebaliknya, jika kekuatan kolektif masyarakat berhasil mengatasi dominasi politik uang, Sumenep memiliki peluang untuk menciptakan pemerintahan yang lebih transparan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Hal ini membutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemimpin lokal, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat pendidikan politik dan mendorong akuntabilitas dalam pemerintahan.
Salah satu alasan utama mengapa politik uang begitu efektif di Sumenep adalah karena kerentanan ekonomi masyarakat dan pola pikir jangka pendek dan resiten yang terus dirawat.
Nasib Kabupaten Sumenep pasca Pilkada sangat ditentukan oleh interaksi antara politik uang dan kekuatan kolektif masyarakat. Jika masyarakat mampu memobilisasi nilai-nilai tradisional seperti gotong royong dan solidaritas untuk melawan dominasi politik uang, Sumenep memiliki peluang untuk menciptakan pemerintahan yang lebih inklusif dan responsif. Namun, jika politik uang terus mendominasi, daerah ini berisiko terjebak dalam siklus stagnasi yang merugikan masyarakat.
Dalam perspektif sosiologi, perubahan sosial tidak terjadi secara instan, tetapi membutuhkan upaya kolektif yang konsisten. Dengan memadukan pendidikan politik, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan nilai-nilai lokal, seharusnya Sumenep dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal dapat mengatasi tantangan politik dan sosial untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Namun nahasnya, gurita politik oligarki rasa-rasanya terlalu mendominasi dan kesadaran kolektif masyarakat tak cukup kuat melawan itu. Maka sampai kapanpun, kekuasaan akan terus berada pada lingkaran elit yang sama, dan masyarakat Sumenep aka terus menjadi perantau  sebab keprihatinan ekonomi lokal yang tak bisa menjadi pijakan.
Pesan penting untuk siapapun yang memimpin Sumenep, mengutip sepenggal kalimat yang disampaikan oleh Kyai Faizi: "Jabatan itu bukan warisan tinggi, esok mungkin kau terhempas sunyi. Jangan lupa siapa yang memberi kuasa (rakyat), dan untuk siapa (rakyat) amanahmu dipelihara." Rakyat adalah sumber legitimasi, dan hanya dengan menghormati kedaulatan mereka, demokrasi yang sejati dapat terwujud di Sumenep.Â
*WafiruddarroinÂ
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H