Mohon tunggu...
Satya Anggara
Satya Anggara Mohon Tunggu... Lainnya - Academic Researcher and Investor

Menyajikan tulisan seputar dunia investasi, bisnis, sosial, politik, humaniora, dan filsafat. Untuk korespondensi lebih lanjut, silahkan hubungi melalui kontak yang tertera di sini.

Selanjutnya

Tutup

Financial

Investor Narsis: Menyadari Peran Keberuntungan dan Kemalangan di Awal Perjalanan Investasi

30 Juli 2024   13:07 Diperbarui: 30 Juli 2024   13:09 16
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: https://collections.etoncollege.com/black-swans/

Keberuntungan dan risiko adalah sepasang saudara yang membimbing jalannya realita di sekeliling kita. Demikian kiranya Morgan Housel dalam The Psychology of Money menggambarkan keduanya. Setiap dari kita berada di tempat masing-masing saat ini, setelah melalui berbagai kemujuran dan kemalangan sepanjang perjalanan hidup. 

Sama halnya dengan hidup, karir investasi seseorang juga didikte oleh hal-hal acak yang berada di luar kendalinya. Bagi mereka yang melalui periode krisis ekonomi dan merasakan langsung bagaimana krisis dalam sekejap mampu menghilangkan kekayaan yang mereka miliki, trauma semacam itu akan terus menghantui di sisa hidup mereka, menyebabkan mereka menjadi lebih skeptis dan pesimis daripada seharusnya. 

Demikian juga dengan mereka yang melalui periode kemakmuran berkepanjangan dan merasakan langsung betapa mudahnya mencapai bagger setiap bulannya, euforia semacam itu akan terus membuai mereka di sisa hidup, menyebabkan mereka menjadi lebih naif dan optimis daripada seharusnya.

Menyadari bahwa karir investasi tidak terlepas dari kemujuran dan kemalangan merupakan titik berangkat yang seharusnya disadari terlebih dahulu oleh siapapun sebelum mereka berkecimpung di dunia ini. Pasar dapat bersikap irasional jauh lebih lama setelah kita sepenuhnya bangkrut akibat tesis investasi yang sebetulnya masuk akal, sebagaimana terjadi pada kasus Short Squeeze Gamestop di Amerika.

Dengan berangkat dari kesadaran ini, seorang investor diharapkan untuk tetap mawas diri seiring dengan bertambahnya pemahaman dan meningkatnya nilai portofolio. Apa yang membahayakan baginya bukanlah tentang apa yang tidak ia ketahui, melainkan apa yang ia yakini ia ketahui secara pasti namun ternyata keliru. Dan dengan semakin membesarnya portofolio, kesalahan kecil saja akan memiliki dampak signifikan terhadap kondisi finansial investor tersebut.

Lantas, bagaimana agar kita senantiasa mengingat dan menyadari peran keteracakan dunia di sepanjang karir investasi kita? Ada dua hal yang patut diingat di sini.

Pertama, kita harus menghindari tendensi untuk berupaya mereplikasi keberhasilan seseorang atau menghindari keputusan buruk yang orang lain ambil. Mengapa demikian? Ambil contoh Warren Buffett.

Keberhasilan Warren Buffett dalam berinvestasi tidak terlepas dari sejumlah hal yang kebetulan terjadi pada konteks kehidupannya seperti misalnya kondisi pasar saham Amerika pada periode 1956 - 1969 ketika ia memulai kemitraan investasinya, umurnya yang panjang, hingga koneksinya dengan Benjamin Graham.

Kita mungkin dapat mengambil beberapa pelajaran berharga darinya, namun mengharapkan keberhasilan yang sama seperti Warren Buffett adalah angan-angan yang agak jauh dari realita walaupun bukan mustahil.

Sama juga halnya dengan menertawakan kebodohan orang-orang yang termakan euforia spekulasi aset kripto. Kita tidak tahu secara persis bagaimana jalan pikir orang-orang tersebut dan bukan tidak mungkin di situasi lain kita pun akan termakan euforia irasional semacam itu juga.

Kita dapat mengambil pelajaran dari kebodohan orang lain, tapi sampai kita mampu memahami apa yang terjadi di balik tragedi finansial orang lain, kita tidak kebal terhadap kemungkinan tragedi serupa mendera kita.

Hal kedua yang patut diingat adalah apa yang disebut oleh Robert Greene dalam The Laws of Human Nature sebagai narsisisme. Suka tidak suka, sampai pada batas tertentu, kita semua memiliki tendensi narsisistik, yaitu kecenderungan untuk melihat ke dalam dan berfokus pada diri kita.

Semakin dalam kita terjerat narsisisme, semakin jauh kita terhubung dengan dunia nyata. Kita mudah mengatribusikan kemujuran pada kemampuan diri yang boleh jadi tidak seberapa hebatnya. Sebaliknya, kita mudah mengambinghitamkan hal-hal eksternal seperti orang lain hingga dunia yang acak sebagai penyebab kemalangan.

Untuk melawan narsisisme, kita perlu membalik fokus diri pada dunia dan orang lain di luar sana. Menghampiri dan mengamati tanpa asumsi awal yang sembarangan, kita membuka diri terhadap kemungkinan untuk belajar lebih banyak hal. Ini yang kerap disebut sebagai empati.

Melalui empati juga, kita mampu menyelami keadaan orang lain guna meningkatkan pemahaman kita sebagai investor. Dengan empati, kita mungkin akan menyadari bahwa Warren Buffett dapat menjadi seperti sekarang karena secara psikologis ia memiliki banyak atribut yang cocok dengan karakteristik investor legendaris yang sukses besar.

Dengan empati juga, kita mungkin akan memahami bahwa bagi sebagian orang yang hidupnya kurang beruntung, tidak banyak peluang untuk dapat mencapai kekayaan. Perjudian seperti misalnya yang mereka lakukan dengan aset kripto adalah momen langka di mana mereka dapat memperoleh kesempatan untuk mengubah nasib dalam sekejap.

Menjadi seorang investor pada mulanya adalah tentang menyadari batas kemampuan diri dan juga peran keteracakan dunia dalam membentuk masa depan keuangan kita. Dan untuk sampai pada penyadaran ini, ada baiknya kita menurunkan ego dan narsisisme kita sedikit demi sedikit.

Ah, sudah hampir waktunya istirahat siang usai dan pasar saham kembali dibuka...

Bibliography

  • Greene, R. (2018). The Laws of Human Nature. Viking.

  • Housel, M. (2020). The Psychology of Money: Timeless Lessons on Wealth, Greed, and Happiness. Harriman House

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun