Biasanya kadang selain mencarikan buku pelajaran untuk anak saya, saya juga sekalian berburu buku-buku lawas yang dijajakan di kios-kios Bu Sri dari ujung ke ujung. Sekilas Bu-Sri mirip kios-kios buku lawas di Kwitang Jakarta atau kios buku belakang stadion Diponegoro Semarang.
Kebetulan sewaktu saya masih sekolah, ibu saya juga mencarikan buku pelajaran untuk saya saat tahun ajaran baru tiba di kios-kios "Bu-Sri" ini, dan tradisi itu saya turunkan kepada anak saya.
Memang kebanyakan untuk buku pegangan yang dijajakan untuk keperluan pelajar dan mahasiswa adalah buku duplikasi atau bajakan, namun keberadaan buku-buku berharga miring ini memang selalu dituju bagi pelajar atau mahasiswa yang mencari referensi buku tetapi sedang berkantong tipis. Keadaan ini harusnya menjadi perhatian bagi pemerintah untuk fokus menyediakan buku gratis pegangan untuk para pelajar kita.
Jajaran kios Bu-Sri bisa dibilang ada sepanjang sekitar 500 M membentang di jalan Kebangkitan Nasional, Sriwedari, Laweyan, Surakarta kerap ramai saat musim tahun ajaran tiba. Namun ketika saya menemui beberapa penjual, beberapa tahun ini sudah menurun drastis penjualannya.
Faktornya jelas, kalah dengan para penjual buku online, serta mungkin saja minat baca buku konvensional sudah agak mulai berkurang, di mana sekarang banyak kaum muda yang lebih suka menghabiskan waktu dengan bermain game mobile atau sosial media ketimbang membaca buku.
Kawasan Bu-Sri selalu siap melayani dan melengkapi keperluan anak-anak sekolah dari jenjang TK hingga perguruan tinggi dengan beragam buku yang harganya jauh lebih miring dibandingkan toko buku modern di sekitaran Solo. Tetapi, masa kejayaan Bu- Sri agaknya mulai memudar, sekitar beberapa tahun terakhir.
Banyak di antara pedagang yang juga berjualan secara online, namun itu pun dirasakan tak terlalu signifikan peningkatannya. Para pedagang pun menuturkan tren peningkatan justru pada buku-buku agama dan mushaf Al-Qur'an yang kerap diborong.
Tak jarang saya kadang menemukan buku-buku langka di kios-kios Bu-Sri, seolah seperti menemukan harta karun literasi yang tak ternilai harganya.
Bagi para pembaca sekalian yang kebetulan mampir ke Solo, lalu nonton pementasan Wayang Orang di Sriwedari, jangan lupa menyempatkan diri 'hunting' buku di belakang taman hiburan ini, dijamin bisa betah berjam-jam mencari buku-buku lawas atau majalah yang sudah tak terbit lagi, sambil bersniffing ria.
Lokasinya lumayan cukup rindang, karena cukup banyak pepohonan di sekitar taman Sriwedari, pelayanan para pedagangnya juga cukup ramah dan sigap, buka dari jam 10 pagi hingga jam 8 malam.
Semoga kios-kios buku lawas seperti Bu-Sri di Solo atau Kwitang di Jakarta tidak tergerus zaman, karena merekalah salah satu benteng terakhir ketersedian literasi untuk dapatkan buku-buku dengan harga terjangkau, karena buku di Indonesia masih dianggap kebutuhan sekunder. Semoga.