Mohon tunggu...
Sarah Alya Mukhbita
Sarah Alya Mukhbita Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa S1 Ilmu Hukum Universitas Airlangga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Objektifikasi Perempuan melalui Akun-Akun Kampus Cantik di Media Sosial

1 Januari 2025   21:51 Diperbarui: 1 Januari 2025   22:48 73
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Di era digital saat ini, media sosial menjadi salah satu platform untuk berinteraksi dengan dunia. Dalam beberapa tahun terakhir fenomena akun "Kampus Cantik" di sosial media marak bermunculan, khususnya Instagram. Akun-akun tersebut menampilkan foto-foto mahasiswi yang dianggap memenuhi standar kecantikan. Akun-akun ini tidak jarang mengunggah foto tanpa izin, melanggengkan objektifikasi perempuan sebagai objek visual belaka.

Akun-akun yang menampilkan perempuan dengan label "kampus cantik" biasanya memiliki tujuan untuk menonjolkan penampilan fisik seseorang yang dianggap memenuhi standar kecantikan yang ada di masyarakat. Mirisnya, keberadaan akun "Kampus Cantik" sangat digemari di Indonesia. Meski admin sebagai orang dibalik akun tersebut sering kali mengunggah foto tanpa mempunyai izin dari orang memiliki foto tersebut. Justru engagement yang didapat akun kampus cantik sangatlah tinggi, bahkan hingga mendapatkan pengikut yang fantastis. Contohnya seperti @uicantikid yang memiliki sekitar 312.000 pengikut, @undip.cantik yang mempunyai sekitar 119.000 pengikut, dan @cantik.its yang memperoleh sekitar 38.900 pengikut. Pengikut akun-akun tersebut tentunya didominasi oleh laki-laki.

Foto-foto yang diunggah umumnya menunjukkan mahasiswi dengan pakaian yang dianggap menarik atau modis, serta ekspresi atau pose yang sering kali dipilih untuk menonjolkan kecantikan fisik. Meskipun beberapa akun ini mungkin bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap penampilan seseorang, pada kenyataannya, banyak dari akun tersebut yang lebih fokus pada bagaimana perempuan terlihat daripada sosok mereka sebenarnya.

Banyak komentar-komentar serta pesan-pesan seksis yang mengarah pada pelecehan verbal yang  dilontarkan kepada perempuan-perempuan yang fotonya diunggah oleh akun tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Tim Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan judul "Perlindungan Data Pribadi bagi Mahasiswi dalam Akun Kampus Cantik", mahasiswi-mahasiswi yang fotonya diunggah di akun kampus cantik mengalami gangguan di sosial media. Gangguan tersebut berupa pesan-pesan yang mengarah ke pelecehan seksual, komentar terhadap bentuk tubuhnya, dihubungi melalui akun Line pribadi dan berbagai gangguan lainnya.

Sayangnya masih ada beberapa orang yang merasa bangga jika foto mereka dipilih untuk diunggah akun tersebut, padahal hal tersebut sangat merugikan untuk perempuan. Mereka dapat terjebak dalam penilaian fisik, yang mana kecantikan dianggap sebagai faktor utama yang menentukan kualitas diri. Hal ini dapat memperburuk tekanan sosial yang ada, yang mengharuskan perempuan untuk terus-menerus memenuhi standar kecantikan tertentu agar tetap dihargai atau diakui di masyarakat. Selain itu, perempuan yang melihat akun-akun tersebut dapat merasa tidak puas dengan penampilan mereka sendiri jika tidak sesuai dengan standar yang ditampilkan di media sosial. Akibatnya, munculnya rasa rendah diri dan kecemasan akan tubuh semakin meningkat, dan ini dapat berdampak pada kesehatan mental serta kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Pernormalisasian hal ini dapat melanggengkan perilaku pelecehan seksual, terutama di lingkungan kampus. Standar kecantikan yang ada dapat menimbulkan lahirnya stereotip toksik dimana ada pembagian antara perempuan yang cantik dan yang tidak secara fisik. Tentu hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menyudahi objektifikasi ini adalah dengan menggunakan fitur report yang ada di sosial media. Selain itu kita juga dapat bersama membangun kesadaran masyarakat dengan edukasi agar lebih bijak lagi dalam bermedia sosial.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun