Mohon tunggu...
Sapti Nurul hidayati
Sapti Nurul hidayati Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Ibu rumah tangga

Mantan ibu bekerja, yang sekarang jadi IRT biasa. Suka hal-hal yang berbau sejarah. Sedang belajar menulis lewat aktifitas ngeblog. Membagikan cerita dan tulisan di blog pribadi https://www.cerryku.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menikmati Bangunan Peninggalan Kolonial di Titik Nol Km

28 Februari 2020   14:19 Diperbarui: 12 Maret 2020   03:03 290
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jogja, kota yang selalu memesona. Tidak hanya bagi yang baru pertama mengunjunginya, bahkan untuk yang telah menetap lama. Banyak hal tentang Jogja yang menarik untuk diketahui. Dan semakin dipelajari, semakin ingin diselami.

Jumat, 21 Februari 2020 kemarin kembali Kompasianer Jogja menyelenggarakan event kelas heritage yang kali ini ingin mengulik tentang titik nol kilometer.

Sebenarnya ini adalah session pengganti, setelah event heritage yang digelar Selasa, 18 Februari lalu gagal terselenggara karena kawasan titik nol kilometer dipenuhi lautan manusia yang ingin melihat dari dekat parade drumband dari AAU sambil menikmati moment Selasa Wagean.

Bagi yang belum tahu, di Jogja setiap hari Selasa Wage diadakan semacam event car free day. Di saat itu, kawasan nol kilometer menjadi semacam surga bagi pejalan kaki untuk menikmati setiap jengkal kawasan nol kilometer dengan merdeka tanpa diganggu lalu lalang kendaraan. Sehingga tidak jarang event ini digunakan oleh berbagai komunitas untuk beraktivitas.

Tentang Titik Nol Kilometer
Bagi masyarakat Jogja pasti sudah tidak asing dengan sebutan titik nol kilometer. Titik nol kilometer adalah sebuah persimpangan yang ada di tengah Kota Yogyakarta yang menjadi favorit wisatawan untuk tempat nongkrong sambil menikmati suasana.

Tepatnya titik nol kilometer berada di persimpangan di depan kantor pos besar Jogja yang ada di Jalan Pangurakan. Lokasinya memang sangat strategis, karena tepat berada di jantung kota Jogja. Pusat segala kegiatan ekonomi dan budaya berlangsung. Berada di depan keraton Jogja, dan dekat dengan kawasan Malioboro serta pasar Beringharjo. Sehingga tidak heran, sudah sejak dulu kawasan ini menjadi kawasan yang istimewa.

Saya dan kawan-kawan KJog (doc.Riana)
Saya dan kawan-kawan KJog (doc.Riana)
Kali ini saya dan teman-teman dipandu Mbak Yulia sujarwo selaku  tour guide akan mengulik kawasan nol kilometer dari kaca mata sejarah.

Yang Menarik di Titik Nol Kilo Meter
Hal pertama yang langsung terlihat ketika kita berada di kawasan nol kilometer, adalah bangunan-bangunan berarsitektur Belanda yang masih kokoh berdiri. Bangunan-bangunan tersebut memiliki fungsi yang vital di masanya. Seperti :
1. Gedung BI
Dulunya, gedung ini dikenal dengan nama Javasche Bank. Dirancang oleh arsitek bernama Hulswitt dan Cuypers, dan didirikan pada tahun 1879 dengan luas sekitar 300 m2.

Gedung BI (doc.Riana)
Gedung BI (doc.Riana)
Bangunan ini didirikan karena geliat perekonomian di Jogja demikian pesat. Pada saat itu Sultan HB VII yang dikenal sebagai sultan sugih banyak mendirikan pabrik gula. Sehingga perputaran uang di Jogja sangatkah cepat.


Ada sekitar 17 pabrik gula yang didirikan pada masanya. Di samping itu uang kertas sudah mulai dikenal, sehingga tidak mungkin menyimpan uang secara tradisional. Layanan kredit mobil juga bisa dilakukan di bank ini.

Sampai sekarang bangunan ini masih kokoh bediri, namun tidak difungsikan lagi. Hanya sebagai museum atau tempat eksibisi yang dibuka diwaktu-waktu tertentu. Padahal sepertinya asyik bisa membayangkan berkeliling memasuki ruang-ruang di gedung ini.

2. Gedung BNI 46
Dulunya gedung ini adalah kantor Nederlandsch indische Levensverzekeringen en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ).

Gedung BNI -46 (doc.pri)
Gedung BNI -46 (doc.pri)
NILLMIJ merupakan perusahaan asuransi jiwa yang didirikan oleh C.F.W Wiggers van Kerchem. Bangunan ini dirancang tahun 1920 oleh gedung Ir. Frans Johan Louwrens Ghijels, seorang Belanda kelahiran Tulungagung.

Saat ini gedung ini digunakan sebagai kantor BNI 46.

3. Kantor Post

Dulunya bernama Post Telegraaf en Telefoon Kantoor. Kantor ini penting sebagai media komunikasi pada saat itu. Kantor ini dibangun di tahun 1912. Meskipun untuk menyampaikan informasi antar kota, butuh waktu yang lumayan lama. Karena surat masih dibawa dengan kereta uap.

Kantor Post (doc.Riana)
Kantor Post (doc.Riana)

Sampai sekarang bangunan ini berfungsi sebagai kantor pos besar Yogyakarta. Sebagai tambahan informasi, dulu di depan kantor pos ini terdapat air mancur. Atau biasa dikenal dengan bunderan air mancur.

Namun di tahun 1982 Sultan HB IX memerintahkan agar air mancur tersebut dibongkar saja. Karena di samping menimbulkan kemacetan, area ini juga sering dipakai mandi para "tekyan" atau gelandangan sehingga terkesan kumuh.

4. Benteng Vredeburg
Bergeser ke arah utara dari titik nol kilometer, kita juga akan menjumpai bangunan peninggalan kolonial. Benteng Vrederbug namanya.

Awalnya benteng ini didirikan oleh Sultan HB I pada tahun 1760 untuk melindungi keraton dan sekitarnya. Namun sebenarnya itu hanya muslihat Belanda. Tujuan didirikan Benteng adalah untuk memudahkan Belanda melakukan pengawasan terhadap keraton. Bangunan ini tadinya sederhana. Dindingnya dari tanah, dan tiangnya hanya terbuat dari kayu kelapa dan aren.

Benteng Vredeburg (doc. Riana)
Benteng Vredeburg (doc. Riana)
Pada tahun 1867 Rustenberg diganti namanya menjadi Vrederbug setelah dibangun kembali menjadi kuat dan megah setelah rusak akibat gempa hebat. Saat ini kegagahan dari benteng Vredeburg ini masih bisa kita nikmati. Benteng ini kini beralih fungsi menjadi kantor dan museum.

5. Gedung Agung
Dulunya dikenal sebagai Djokjakarta Residentie atau kantor Karesidenan Yogyakarta. Mulai di bangun bulan Mei 1824 yang diprakasai oleh Residen Yogyakarta ke-18 bernama Anthony Hendriks Smissaerat yang menghendaki adanya istana yang berwibawa bagi residen-residen Belanda sedang arsiteknya adalah A. Payen.

Saat ini istana yang menempati lahan seluas 43.585 m ini digunakan sebagai istana kepresidenan ketika presiden berkunjung ke Yogyakarta.

Masih banyak bangunan dan peninggalan bernilai sejarah di kawasan nol kilometer ini. Namun biar tidak terlalu panjang akan saya ceritakan di bagian lain dalam artikel saya berikutnya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun