Mohon tunggu...
Widodo Judarwanto
Widodo Judarwanto Mohon Tunggu... Dokter - Penulis Kesehatan

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. Telemedicine 085-77777-2765. Focus Of Interest : Asma, Alergi, Anak Mudah Sakit, Kesulitan Makan, Gangguan Makan, Gangguan Berat Badan, Gangguan Belajar, Gangguan Bicara, Gangguan Konsentrasi, Gangguan Emosi, Hiperaktif, Autisme, ADHD dan gangguan perilaku lainnya yang berkaitan dengan alergi makanan.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Duh, Bukan Radang Tenggorok dan Tifus, Ternyata Anakku DBD

24 April 2024   07:58 Diperbarui: 26 April 2024   00:16 200
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi anak menderita demam berdarah. Sumber: Shutterstock/Mama Belle and the kids via KOMPAS.com

Seorang ayah sedih dan bingung saat anak yang semata wayang berusia 10 tahun  tidak tertolong nyawanya ketika dinyatakan terinfeksi DBD (Demam Berdarah Dengue). Orangtua bingung, karena dokter menganggap anaknya tidak tertolong karena dianggap terlambat penanganan. Padahal anaknya sudah periksa ke dokter mulai hari pertama awal demam dan dibawa berobat hingga 3 kali berpindah dokter.  

Saat awal diperiksa  dokter anaknya didiagnosis radang tenggorokan (Faringitis akut), hari berikutnya karena demam masih tinggi berpindah ke dokter lain didiagnosis tifus. Hari ke 4 dibawa ke UGD dinyatakan sudah berat, sehingga esok harinya tak tertolong. Dokter menyatakan anaknya mengalami DBD dan terlambat penanganan. Banyak kasus penyakit DBD awalnya didiagnosis tifus dan radang tenggorokan tetapi akhirnya ternyata alami DBD. Mengapa sering terjadi "underdiagnosis" DBD atau Sakit DBD tetapi awalnya didiagnosis penyakit lainnya ?

"Underdiagnosis" DBD atau kesalahan diagnosis karena penderita awalnya didiagnosis penyakit lain tapi ternyata alami penyakit DBD seringkali terjadi. Hal ini terjadi kerena tanda dan gejala infeksi DBD mirip banyak penyakit lainnya. Penyakit lain yang mirip dan sering salah diagnosis paling sering terjadi adalah radang tenggorok, demam tifus atau alergi obat. Bahkan ada penderita DBD dikira infeksi usus buntu, ternyata setelah operasi dinyatakan alami DBD.

Demam Berdarah Dengue 

Demam berdarah adalah penyakit virus (arboviral) yang ditularkan melalui arthropoda yang paling umum dan berbahaya dalam masyarakat. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dari genus Aedes, yang tersebar luas di wilayah subtropis dan tropis di dunia (lihat gambar di bawah). Angka kejadian penyakit demam berdarah telah meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir dan pada bulan-bulan tertentu seperti saat ini, dengan perkiraan 40-50% populasi dunia berisiko terkena penyakit ini di daerah tropis, subtropis, dan, yang terbaru, daerah beriklim sedang.

Demam berdarah biasanya merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dengan sendirinya dengan angka kematian kurang dari 1% bila terdeteksi sejak dini dan dengan akses terhadap perawatan medis yang tepat. Bila diobati, angka kematian akibat demam berdarah yang parah adalah 2-5%, namun jika tidak diobati, angka kematiannya bisa mencapai 20%. Rata-rata, demam berdarah menjadi gejala setelah masa inkubasi 4 hingga 10 hari (kisaran 3-14 hari). Gejala demam berdarah biasanya berlangsung 2-7 hari.

Banyak orang yang menderita demam berdarah awalnya mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun kecuali demam. Banyak pasien demam berdarah mengalami gejala menggigil (kedinginan); ruam, termasuk bintik-bintik eritematosa pada kulit; dan kemerahan pada wajah, yang bisa berlangsung 2-3 hari. 

Anak-anak di bawah 15 tahun yang menderita demam berdarah biasanya mengalami sindrom demam nonspesifik, yang mungkin disertai ruam makulopapular. Demam berdarah harus dicurigai pada individu yang mengalami demam tinggi (104F/40C), sakit kepala retro-orbital (di dearah mata), nyeri otot dan sendi, mual, limfadenopati (pembesaran kelenjar), muntah, dan ruam, serta telah melakukan perjalanan dalam waktu 2 minggu sejak timbulnya gejala ke rumah sakit. daerah dimana terdapat vektor yang sesuai dan penularan demam berdarah dapat terjadi.

Edit Pribadi 
Edit Pribadi 

Gejala yang menyertai pada pasien demam berdarahyang hampir mirip penyakit lainnya  adalah demam, Sakit kepala, Nyeri retro-orbital, Mialgia parah: nyeri terutama pada punggung bagian bawah, lengan, dan kaki, Arthralgia: nyeri iasanya pada lutut dan bahu, Mual dan muntah (diare jarang terjadi), nyeri perut, Kelemahan, malaise, dan kelesuan, Sensasi rasa berubah, Anoreksia, Sakit tenggorokan

Fase awal demam berdarah yang parah mirip dengan demam berdarah dan penyakit virus demam lainnya. Segera setelah demam mereda pada hari ke III-V setelah timbulnya gejala  tanda-tanda kebocoran plasma muncul, seiring dengan berkembangnya gejala hemoragik seperti perdarahan dari lokasi trauma, perdarahan gastrointestinal, dan hematuria. Pasien juga mungkin mengalami nyeri perut yang parah, muntah terus-menerus yang mungkin mengandung darah, kelelahan, dan kejang demam (pada anak-anak).

Fase lanjut hari ke III-V  sering kali memasuki fase kritis. Jika tidak diobati, demam berdarah kemungkinan besar akan berkembang menjadi syok. Gejala umum syok yang akan datang meliputi nyeri perut, muntah, dan kegelisahan. Pasien juga mungkin mengalami gejala yang berhubungan dengan kegagalan peredaran darah, seperti pucat, takipnea (napas cepat), takikardia (nadi cepat), pusing/pening, dan penurunan tingkat kesadaran hingga tidak tertolong.

Mirip Penyakit Lainnya

Radang Tenggorokan (Faringitis Akut). Infeksi DBD pada hari pertama sering dianggap radang tenggorok karena beberapa kasus mengalami gejala nyeri  radang tenggorok. Memang pada umumnya penyakit DBD tidak mengalami gejala nyeri tenggorok, tetapi sebagian kecil penderita mengalami gejala ini. Biasanya gejala ini sering terjadi pada penderita DBD dengan riwayat alergi yang sering mengalami berulang batuk pilek, radang tenggorok dan radang amandel (tonsilitis)

Demam Tifus. Infeksi DBD sering dianggap penyakit tifus bukan sekedar  karena gejalanya hampir sama, tetapi karena seringkali penderita infeksi virus apapun sering alami gejala nyeri perut, mual dan muntah dan hasil laboratorium tes penyakit tifus (test widal dan tes Tubex IgM09) tampak terjadi peningkatan. Hal ini akan sering terjadi pada penderita dengan riwayat hipersensitifitas (alergi) saluran cerna. Pada penderita ini bila terkena infeksi virus apapun seperti DBD, Covid19, Common Cold atau virus lainnya sering alami gangguan saluran cerna seperti mual, muntah dan nyeri perut.  

Sedangkan pemeriksan laboratorium penyakit tifus seperti  tes widal dan sejenisnya seringkali tejadi peningkatan titer padahal tidak mengalami tifus. Hal ini sering terjadi pada penderita yang berulangkali dinyatakan tifus semasa hidupnya. Pada penderita hipersensitifitas atau alergi juga sering terjadi false positif atau yang seharusnya negatif tetapi hasilnya positif terutama pada pemeriksaan laboratorium antibodi seperti widal dan Tubex.

Alergi Obat dan Alergi Makanan. Penderita DBD sering dikelirukan dengan penyakit alergi obat atau alergi kulit karena saat terjadi infeksi virus apapun penderita alergi sering mengalami gejala rash atau kemerahan. Bila tidak cermat gejala ini sering dianggap alergi obat atau alergi makanan. Pada fase penyembuhan penderita DBD dengan riwayat alergi sering mengalami gatal dan kemerahan yang luas  pada kaki dan tangan

Penyakit Usus Buntu. Pada kasus yang jarang pernah dilaporkan penderita DBD, awalnya didiagnosis usus buntu ternyata setelah operasi usus buntu tidak tertolong nyawanya dan dinyatakan sakit DBD. Hal ini terjadi pada penderita dengan riwayat sering sakit perut berulang saat terkena infeksi virus apapun termasuk DBD mengalami nyeri perut yang kuat dan hebat. Seringkali gangguan nyeri perut seperti ini hampir mirip dengan gejala penyakit usus buntu (apendisitis) padahal 

Kewaspadaan

Jangankan orang awam bahkan klinisi yang sudah berpengalamanpun kadang seringkali terkecoh banyak penyakit bukan DBD awalnya didiagnosis DBD.  Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya ada beberapa kondisi penting yang harus dicermati. Meski dokter memvonis awalnya memvonis diagnosis tifus atau radang tenggorokan atau alergi obat, bila seseorang mengalami gejala demam yang tinggi pada hari I-II disertai nyeri otot dan tulan. Kita harus waspada penyakit DBD bila terdapat kondisi di bawah ini :

  • Bila hari ke III-V meski demam turun tetapi penderita semakin lemah , tidak bisa duduk, berdiri dan berjalan lama
  • Bila hari ke III-V meski demam turun, anak lemas dan gelisah disertai telapak kaki dan dingin dingin (anyep)
  • Dalam 1-2 minggu di lingkungan dalam rumah, tetangga atau teman sekolah pernah juga alami demam tinggi atau di rawat di Rumah Sakit
  • Bila dalam 1-2 minggu di sekitar rumah atau sekolah pernah dilakukan fogging atau penyemprotan nyamuk penyebab demam beradarah
  • Hasil pemeriksaan laboratorium darah hari I-II, trombosit , NS1 negatif atau hasil IgG IgM negartif jangan terburu-buru dianggap bukan DBD. Karena infeksi DBD pada awal hari I-III seringkali masih menunjukkan hasil laboratorium dalam batas normal. Penderita DBD pada hari ke III-V baru menunjukkan perubahan hasil laboratorium.

Keterlambatan penanganan infeksi DBD bukan karena terlambat dibawa ke dokter atau ke Rumah Sakit, tetapi terlambat penanganan saat memasuki fase kritis hari III-V. Saat hari I-II infeksi DBD tidak menunjukkan gangguan yang berbehaya, tetapi gejala kebocoran cairan plasma dan perdarahan justru terjadi pada  fase kritis hari ke III-V.  Pada kasus di atas bukan karena terlambat di bawa ke dokter, tetapi terlambat penanganan saat fase kritis. Saat fase kritis hari III-V memang demam yang awalnya tinggi jadi turun. 

Saat ini banyak orang menganggap sembuh, tetapi justru terjadi penurunan kondisi seperti syok atau penurunan tensi dan nadi karena terjadi kebocoran cairan plasma yang berdampak pada perburukan, Penanganan terbaik sebuah penyakit DBD yang utama bukanlah obat yang terbaik tetapi pencegahan dan deteksi dini diagnosis penyakit. Karena penyakit DBD tidak ada pengobatan khusus, tidak memerlukan antibiotika dan terapi herbal lainnya, tetapi akan sembuh sendiri setelah hari ke VI-VII.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun