Kejanggalannya memang muncul sejak awal, 21 November 2019 lalu. Ketika tujuh milenial usungan Pak Jokowi diperkenalkan ke publik. Orang-orang yang paham akan bertanya-tanya, apa fungsi dari keberadaan stafsus milenial tersebut? Mana transparansi tugas mereka? Tak ayal, itu hanya sebuah gagasan yang agaknya tumpang tindih.
"Ah, mereka itu berkontribusi pada negeri. Cerdas. Berbakat. Pengusaha. Aktivis. Murah hati. Social care. Muda. Berkarya."
Deretan kalimat di atas telah menumpuk di telinga. Kesemuanya itu betul, tak perlu disangsikan. Poin utamanya adalah, iklim politik tidak seramah dan senyaman itu, honey.
Berdasarkan pertimbangan penunjukan politik (political appointed) yang dipaparkan Bang Andi Hakim, saya pribadi menganggap bahwa kehadiran stafsus milenial adalah sebuah aksesoris atau gimmik dari sebuah kampanye. Hal ini bisa kita lihat dari background tiap stafsus. Ada yang mewakili kaum perempuan, creativepreneur, platform technology, aktivis, dan lainnya. Sebuah keterwakilan saja atau perpanjangan tangan dari tokoh tertentu.
Menjadi stafsus memang tidak mudah. Apalagi ada kesimpangsiuran sejak awal. Ia tidak gila kekuasaan dan keputusannya untuk hengkang adalah hal yang patut diapresiasi. Kondisi perpolitikan yang sesekali kejam tidak berkesesuaian dengan personal stafsus tersebut untuk saat ini.
Kita tidak boleh serta-merta mencap beliau sebagai stafsus yang kebagian kue-kue proyek. Beliau hanya salah kandang sejak awal. Seharusnya menetap pada bisnis yang telah dirintisnya namun "terperangkap" bersama enam milenial lainnya dalam ranah politik yang entah bagaimana nasib mereka ke depan. Semoga sehat wal'afiyat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H