Mohon tunggu...
salwafecia
salwafecia Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa

upnvj

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Raya and The Last Dragon : Animasi yang Mengajarkan Keberanian dan Kerendahan Hati.

15 September 2024   23:23 Diperbarui: 16 September 2024   19:51 39
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Raya and The Last Dragon adalah salah satu karya terbaru dari Disney yang dirilis pada tahun 2021. Film ini menampilkan latar dunia fantasi yang terinspirasi dari berbagai budaya Asia Tenggara, yang membawa suasana segar dalam jajaran film animasi Disney. Film ini disutradarai oleh Don Hall dan Carlos López Estrada, dengan skenario yang ditulis oleh Qui Nguyen dan Adele Lim. Pengisi suara utama, termasuk Kelly Marie Tran sebagai Raya dan Awkwafina sebagai Sisu, naga terakhir yang menjadi tokoh sentral dalam kisah ini.

Cerita dan Tema


Cerita berpusat pada seorang prajurit muda bernama Raya, yang berasal dari Kerajaan Heart, salah satu dari lima wilayah di dunia fiksi bernama Kumandra. Lima wilayah ini pernah menjadi satu bangsa yang bersatu, tetapi perpecahan terjadi setelah munculnya makhluk jahat yang disebut Druun, yang memiliki kemampuan untuk mengubah makhluk hidup menjadi batu. Druun pertama kali muncul ratusan tahun yang lalu, dan Kumandra hanya dapat diselamatkan berkat kekuatan ajaib para naga yang mengorbankan diri mereka. Setelah itu, kekuatan naga terkandung dalam sebuah permata yang menjadi pusat dari konflik di antara lima wilayah: Heart, Fang, Spine, Tail, dan Talon.

Raya memulai petualangannya setelah sang ayah, pemimpin Heart, terkena kutukan Druun. Untuk menyelamatkan dunia dan mengembalikan kesatuan, Raya harus mencari Sisu, naga terakhir yang masih hidup, dan bersamanya mengumpulkan kembali pecahan permata ajaib yang tersebar di kelima wilayah.

Tema utama dari film ini adalah tentang kepercayaan dan persatuan. Di dunia yang terpecah oleh ketidakpercayaan, Raya harus belajar membuka hatinya kembali, terutama setelah ia merasa dikhianati oleh teman masa kecilnya, Namaari dari Kerajaan Fang. Sepanjang film, Raya dihadapkan pada dilema moral tentang kapan dan bagaimana ia bisa mempercayai orang lain, bahkan ketika dunia penuh dengan pengkhianatan dan rasa curiga.


Animasi dan Visual


Sebagai film animasi, "Raya and the Last Dragon" tampil memukau dengan visual yang sangat indah. Dunia Kumandra digambarkan dengan detil yang mengesankan, mulai dari lanskap alam hingga desain arsitektur yang terinspirasi oleh budaya Asia Tenggara. Setiap wilayah dalam film memiliki estetika uniknya sendiri, yang mencerminkan keragaman geografis dan budaya di dunia nyata.

Sebagai contoh, wilayah Heart digambarkan memiliki lanskap tropis yang hijau dengan sungai yang indah, sementara wilayah Fang menampilkan estetika yang lebih berbatu dan berpusat di atas danau. Wilayah Talon dipenuhi dengan pasar terapung yang hidup, sedangkan Tail lebih terisolasi dan tandus. Setiap latar tersebut menambah kedalaman dunia yang terasa sangat nyata meskipun berada dalam ranah fantasi.

Animasi aksi juga sangat halus dan penuh energi, terutama dalam adegan pertarungan. Disney berhasil menciptakan koreografi pertempuran yang memikat, menggunakan teknik-teknik seni bela diri yang terinspirasi dari berbagai tradisi Asia Tenggara.


Representasi Budaya Asia Tenggara


Salah satu daya tarik utama dari film ini adalah representasi budaya Asia Tenggara yang mendasari banyak elemen dalam cerita, visual, dan desain karakter. Film ini terinspirasi dari beragam negara seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Laos. Banyak elemen yang dikenali dalam desain pakaian, arsitektur, seni bela diri, dan bahkan makanan yang muncul dalam film.

Disney melakukan riset mendalam dan bekerja sama dengan tim ahli serta konsultan budaya untuk memastikan bahwa representasi ini dilakukan dengan hati-hati dan hormat. Hal ini terlihat dalam detil-detil kecil yang membuat film ini terasa berbeda dari film fantasi Disney lainnya, seperti kehadiran pasar terapung yang terinspirasi dari Thailand atau penggunaan senjata yang menyerupai keris, senjata tradisional dari Indonesia.

Meskipun tidak secara spesifik mengambil satu budaya, film ini berhasil menciptakan suasana yang terasa autentik dan akrab bagi penonton yang berasal dari kawasan Asia Tenggara.

Karakter dan Pengembangan

Raya, sebagai protagonis, adalah karakter yang kuat, cerdas, dan berdedikasi. Dia memiliki misi yang jelas, tetapi juga memiliki kelemahan yang realistis, yaitu kesulitan untuk mempercayai orang lain. Sepanjang film, kita melihat perkembangannya dari seseorang yang sangat berhati-hati menjadi seseorang yang mampu membuka hatinya untuk bekerja sama dan membangun kembali kepercayaan dengan sesama manusia.

Sisu, sang naga terakhir, adalah karakter yang memberikan keseimbangan humor dan keceriaan dalam cerita. Awkwafina memberikan suara yang sangat sesuai untuk karakter ini, menambahkan sentuhan yang unik dengan kepribadian yang ceria dan sedikit canggung. Sisu bukanlah naga yang gagah dan menakutkan seperti yang biasa digambarkan dalam mitologi Barat, melainkan seekor naga yang penuh harapan dan optimisme, yang percaya bahwa manusia dapat belajar mempercayai satu sama lain lagi.

Karakter-karakter pendukung lainnya juga memberikan dimensi yang lebih dalam pada cerita, seperti Namaari, musuh bebuyutan yang juga menghadapi dilema moralnya sendiri tentang kesetiaan kepada negaranya dan keinginan untuk persatuan.

Pesan Moral dan Kesimpulan

"Raya and the Last Dragon" membawa pesan moral yang kuat tentang pentingnya kepercayaan, persatuan, dan pengorbanan demi kebaikan bersama. Film ini relevan dengan kondisi dunia saat ini, di mana banyak masyarakat yang terpecah oleh perbedaan dan ketidakpercayaan.

Secara keseluruhan, "Raya and the Last Dragon" adalah film yang layak ditonton tidak hanya karena visualnya yang memukau dan ceritanya yang penuh aksi, tetapi juga karena pesan moralnya yang mendalam dan relevan. Ini adalah salah satu film Disney yang berhasil merayakan keragaman budaya dengan cara yang inklusif dan penuh hormat, sambil tetap memberikan hiburan yang seru bagi penonton dari segala usia.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun