Mohon tunggu...
salman imaduddin
salman imaduddin Mohon Tunggu... Sales - Komunitas Ranggon Sastra

Control by eros

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Dirampas Cinta

26 Maret 2020   06:24 Diperbarui: 26 Maret 2020   06:33 45
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

dawaiku berbunyi ketika malam, sendirian di ruang kosong 

tanpa jiwa dan kasih iya bersua bernada lirih 

mencari jari jemari dalam gaungnya ia merindu setiap hari 

ia tertiup dan berbunyi pada lubang perutnya yang kosong tak berpenghuni 

ia ingin bersenandung tentang bumi dan hati 

namum angin tak semerdu sang tuan kala bernyanyi 

namun sang tuan sibuk menagih rindu 

sang puan sang puan inginkan perhiasan 

sang tuan menentang suara-suara merdu dalam hatinya 

sang tuan mencari harta di kota 

sang tuan berebut upah dengan tuan dan juga tuan-tuan sekalian 

ia menuji pulang

sang tuan melayang beberapa bulan setelah

terjadi kecelakaan

dawai pasrah ia terikat jaring-jaring hewan 

tertiup angin yang dipaksa masuk dalam ruang 

oh ruang hampa, dulunya tempat sang tuan dan puan pacaran 

          aku mati istriku kawin lagi 

          dawaiku tak menemaniku 

          ia juga sendiri 

kini tak ada lagi bunyi-bunyi hening sesekali 

          aku mati istriku kawin lagi 

          aku melangkah lunglai menuju mati                         kembali 

          apakah aku sudah pernah mati 

          ataukah aku sedang mati 

          aku lah dawai yang ditinggal oleh tuannya            sendiri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun