1. Mengusut Kembali Kasus Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan yang memakan 135 korban jiwa itu memang sudah diusut, pelaku-pelakunya sudah divonis melalui pengadilan, tetapi masih menyisakan sejumlah kejanggalan, yang menunjukkan bahwa kasus Kanjuruhan belum tuntas.
Pertama, pihak keluarga korban sampai hari ini menginginkan keadilan. Ini bukannya bermakna dendam atau belum legowo terhadap takdir. Tetapi hati yang semakin luka akibat tidak adanya keadilan.
Kedua, hal di atas itu disebabkan proses pengadilan yang dianggap tidak fair. Mulai dari vonis yang dianggap tidak sesuai; kesimpulan hakim bahwa kesalahan pada angin, bukan tersangka; serta Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru yang dianggap turut bersalah tetapi tidak kunjung diadili di pengadilan hingga saat ini.
Jika kasus Kanjuruhan tidak dituntaskan, maka citra hukum kita menjadi cacat. Orang-orang akan berpikir bahwa dengan begitu mudahnya para pelaku tragedi besar ini melepaskan diri dari kesalahannya.
Citra sepakbola tanah air juga menjadi tercoreng. Salah satu buktinya adalah alasan mengapa FIFA mencoret Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia U-20, yaitu perkembangan sepakbola Indonesia yang belum kondusif. Lalu Pemerintah diminta fokus untuk membenahi sepakbola tanah air pasca "... tragedi oktober 2022." Seperti yang tercantum di dalam rilis FIFA.
2. Memperbaiki Mental Suporter Sepakbola yang Gemar Tawuran
Menpora memang dituntut untuk menaungi seluruh macam cabang olahraga. Tetapi biar bagaimanapun, sepakbola adalah cabang yang terbesar, terpopuler, dan paling bergengsi. Sekaligus yang paling sering bermasalah.
Kanjuruhan merupakan tragedi yang terbesar. Tetapi kericuhan-kericuhan pada level yang lebih kecil juga banyak. Di kampung halaman saya pribadi, sudah menjadi pemakluman bahwa hampir setiap even pertandingan sepakbola, setiap itu pula ada kerusuhan.
Baru-baru ini pula, antara suporter Persis Solo dan Persib Bandung terlibat kerusuhan, hingga menyebabkan kerusakan stadion Pekan Sari, Bogor. Serta banyak lagi insiden kericuhan yang terjadi di tengah lapangan.
Inilah wajah sepakbola kita yang mungkin membuat FIFA memandang Indonesia belum siap menjadi tuan rumah. Penanganan kasus Kanjuruhan yang tidak maksimal, ancaman keributan sebab penolakan timnas Israel, serta mental suporter maupun pemain sepakbola kita yang suka ribut.