Galau dirantau, menahan dalam-dalam rasa rindu dan menyimpannya dalam dada. Disini tidak karantina, kerja-kerja ringan saya  bikin materi untuk persentasi seorang senior di rapatnya hanya di kerjakan di rumah (working from home). Masih bisa kemana-mana tetapi menjaga jarak, habiskan beberapa bulan di awal 2012 hanya mengurung diri di rumah, laptop dan handphone menjadi teman terbaik disaat pandemi. Semua itu tidak mampu membunuh rasa rindu ingin bertemu, berkumpul dengan mereka orang tercinta.
Jenuh memang aktivitas seperti ini dimasa pandemi, beberapa orang bisa mudik lebih awal. Ada teman yang sudah mudik, jauh sebelum ramadhan datang. Aktivitas ramadhan masih sama seperti tahun lalu, kadang menerobos ketakutan diri dan mencari takjil untuk buka puasa di luar, kadang hanya order on line, tidak ada nongkrong tahun pandemi. Ah bosan.
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan berpuasa ramadhan di rumah, ada keluarga, ibu, teman-teman, paman, bibi dll. Ada suasana asri, bahagia, bisa berinteraksi, tidak jenuh, makan dengan teratur dan banyak hal yang tidak mungkin saya dapat di perantauan. Rumah itu, kasih ibu melimpah, ruang-ruang diisi dengan senyum dari wajahnya yang tua dan keriput, rumah yang isinya adalah sayang dan kegembiraan. Huh, kangen.
Next [..] Seri II
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H