Sejak Maret 2020, tepatnya setelah kasus pertama Covid-19 di Indonesia yang saat itu muncul di Kota Petir, Depok, Jawa Barat dan diumumkan resmi oleh Presiden Joko Widodo 2 Maret lalu, selaras dengan perubahan siklus kehidupan seorang pemuda sekaligus mahasiswa yang benci terlalu banyak libur ini. 16 Maret 2020, pemuda ini menerima surat edaran kampus yang berisi pernyataan jika mahasiswa dan mahasiswi di universitasnya resmi dirumahkan atau belajar dari rumah sejak hari itu.Â
Tak lain dan tak bukan, penyebabnya pasti covid sialan ini, gumamnya. Biang Kerok baru, berbentuk virus yang dapat menular dari satu inang ke inang lain melalui droplet atau percikan air liur maupun dari permukaan benda yang telah terkontaminasi.Â
Penyesuaian baru pun tak dapat dihindari, pemuda ini menjadi rajin mencuci atau membersihkan tangannya. Mencuci tangan setelah makan, setelah buang air besar (tentunya!), dan setelah memegang uang menjadi kebiasaan baru yang sebelumnya jarang ia lakukan, terkecuali setelah buang air besar, itu merupakan kultur lama yang harus, kudu, dan tetap ia jaga dan lestarikan. Back to the topic, instruksi untuk rajin mencuci tangan ini tidak ia makan sendiri.Â
Sebagai seorang mahasiswa, pemuda ini memiliki peran untuk mengedukasi atau membagi pengetahuannya kepada masyarakat, tetapi karena menurutnya lingkup yang besar itu dirasa sulit, ya kepada lingkup yang lebih kecil yaitu keluarga dan teman se-permainan.Â
Cara ia membangun kesadaran kolektif pun tidak menggunakan hal rumit beserta ancaman. Ia terinspirasi dari sebuah unggahan video yang menunjukkan seorang ibu beserta anaknya seperti tengah melakukan eksperimen pelajaran IPA, di mana mereka bereksperimen dengan lada atau mereka sebut 'kuman' yang berada di dalam wadah dan kemudian si Ibu menunjukkan bagaimana sabun merupakan alat yang ampuh supaya 'kuman' tidak dekat dengan anak-anak di dalam video itu.Â
Setelah pemuda itu menunjukkan pentingnya untuk mencuci tangan di kondisi pandemi seperti ini, ibu, bapak, abang dan kakaknya pun mengerti dan ikut-ikutan menjadi rajin.
Instruksi lainnya yang mau tak mau ia patuhi ialah untuk belajar dari rumah. Pembelajaran Jarak Jauh atau yang lebih sering disingkat menjadi PJJ ini sebetulnya memang lebih fleksibel dan memiliki banyak keuntungan tersendiri untuk mahasiswa. Keuntungan yang pertama, mahasiswa yang bertempat tinggal lumayan jauh dari kampus tak lagi perlu bermacet-macetan di jalan atau berdesakan di transportasi umum untuk menimba ilmu di kampus.Â
Cukup dengan gadget yang memiliki penyimpanan atau storage yang tidak hampir penuh dan kuota internet saja sudah cukup. Memang, kuota yang dibutuhkan akan lebih banyak dari sebelumnya, tetapi jika ongkos jalan dialokasikan ke paket data ditambah adanya kuota bantuan dari kampus atau pun pemerintah, tampaknya perkara itu tidak perlu lagi dipusingkan.Â
Kedua, mahasiswa dan mahasiswi rasanya tidak perlu lagi merasa insecure dan memusingkan penampilan ketika kuliah online. Ya, adanya fitur turn of video dibeberapa aplikasi penunjang PJJ dapat digunakan untuk menutupi muka bantal maupun muka panik ketika hendak presentasi. Walaupun dapat dipastikan dosen akan berbicara dengan nada halus dan perlahan naik ke nada tinggi supaya kita menyalakan kamera, tetapi sebagai pemuda, anda dan saya memiliki 1001 alasan bukan? Tolong, jangan disangkal.Â
Tetapi, diluar beberapa keuntungan yang disebutkan di atas, bagi pemuda ini, tampaknya hal tersebut tidak dapat menggantikan kualitas pertemuan tatap muka dengan dosen dan teman sebaya di dalam pembelajaran maupun diskusi, di dalam kelas maupun di luar kelas. Pembahasan yang berat maupun yang ringan terdengar lebih hidup dan menarik ketika bertatap muka dengan orang lain. Secara subjektif, pemuda ini menyimpulkan keresahannya dengan cuitan yang ramai diretweet di media sosial Twitter beberapa waktu lalu, pembelajaran tatap muka > PJJ, valid, no debat.Â
Covid-19 pada akhirnya berimplikasi pada hubungan sosial di dalam masyarakat. Masyarakat pada umumnya, atau sekarang bisa dikatakan pada awalnya, melakukan berbagai tindakan preventif untuk memproteksi dirinya beserta keluarga dari si biang kerok ini. Stigma, kecurigaan dan paranoid, serta alienasi oleh orang lain maupun diri sendiri terjadi di era pandemi ini. Bahkan PSBB atau melakukan segalanya dari rumah sekarang ini berarti mengharuskan individu untuk mengasingkan diri dari kehidupan riilnya.Â
Melalui pandemi covid-19, pemuda ini berpikir secara rasional bahwa tindakan yang ia lakukan sekarang ini tidak hanya berpengaruh pada dirinya sendiri, tetapi juga orang lain, khususnya kerabat terdekat. Tindakan yang dilakukan secara sadar, memiliki makna subjektif dan ditujukan kepada orang lain seperti disebut di atas, dikatakan oleh Max Weber sebagai tindakan sosial. Weber membagi tindakan sosial menjadi empat tipe, yaitu : tindakan rasional murni, tindakan rasional nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afektif.Â
Sedikit mengulas keempat tipe tindakan sosial ini, di mana tindakan rasional murni ialah tindakan yang memiliki tujuan dan cara mencapainya dipertimbangkan secara logis dan dengan akal sehat manusia contohnya transaksi ekonomi, tindakan rasional nilai ialah tindakan yang dilandasi kepercayaan terhadap nilai-nilai tertentu, seperti bersedekah yang dilandasi oleh nilai agama, tindakan tradisional ialah tindakan mengacu pada tradisi atau yang telah dilakukan sejak dahulu, seperti mudik dan beribadah di rumah peribadatan, dan terakhir tindakan afektif ialah tindakan yang dilandasi oleh perasaan, contohnya berpacaran. Mengaitkannya dengan covid-19 yang tengah terjadi dan hingga tulisan ini dibuat telah mencapai bulan yang ke-9 nya hidup dan berkembang di Tanah Air, pemuda ini mengajak para pembaca untuk mendahulukan tindakan rasional murni, atau jika dijabarkan, setiap tindakan yang akan dilakukan oleh teman-teman, pembaca, atau jika diperbolehkan akrab maka pemuda ini sebut saudara, sudah seharusnya berorientasi untuk mengurangi penyebaran virus ini di wilayah masing-masing. Kita kesampingkan dahulu, keinginan kita untuk melakukan tindakan tradisional, tindakan afektif, ataupun bagaimana carut-marutnya kebijakan para elit di tengah pandemi ini.Â
Jika kesadaran kolektif untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak terbentuk secara sadar dan masif pada diri tiap individu, maka bukan tidak mungkin si Biang Kerok yang muncul secara tiba-tiba ini akan hilang secara tiba-tiba pula. Mungkin pemuda ini terlalu banyak intisari atau kopi yang berafiliasi dengan mimpinya supaya pandemi ini cepat pergi, tetapi semoga pemuda ini tidak bermimpi sendiri.
Daftar Pustaka
Rahadian, Arief. 2019. Mengenal Pemikiran Max Weber. https://medium.com/@ariefism/mengenal-pemikiran-max-weber-9e5793dcb619#:~:text=Weber%20menyatakan%20bahwa%20setiap%20tindakan,oleh%20individu%20tersebut%5B5%5D. (Diakses pada tanggal 10 November 2020).
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI