Adapun kata ramadan (dengan hurup d) berasal dari kata kerja tiga hurup (ra-mim-dal), yang berarti abu atau sisa pembakaran benda, atau sakit mata. Karena itu kata majemuk mustasyfa-r-ramadi adalah rumah sakit mata atau klinik mata.
Kesimpulannya, kata Ramadhan (dengan hurup dh) mengandung makna positif dan keberkahan. Sementara kata ramadan (dengan hurup d) lebih mengandung makna negatif, sakit mata dan abu sisa pembakaran.
*-*-*
Persoalan salah eja dalam penulisan-penuturan aksara Arab dan padanannya dalam bahasa Indonesia sebenarnya bisa disiasati dengan cara berdisiplin menerapkan panduan transliterasi hurup Arab ke hurup bahasa Indonesia, yang sudah diatur melalui SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor: 158 Tahun 1987 dan dan Nomor: 0543b/U/1987.
Dan seperti diketahui, transliterasi hurup dal () adalah D atau d (tanpa titik).
Sementara transliterasi hurup Arab dhad () adalah atau  (dengan titik di bawah).
Masalahnya adalah bahkan media-media mainstream dan jajaran wartawannya tampaknya tidak begitu peduli dengan panduan literasi tersebut. Demikian juga para editor di perusahaan-perusahaan percetakan dan penerbitan buku.
Selain itu, kunci-kunci hurup pada setiap keybord (papan ketik) di komputer atau handphone, juga tidak menyediakan hurup transliterasi yang mudah diakses.
Akibatnya, banyak orang termasuk saya, mengambil jalan pintas: untuk membedakan kedua hurup yang mirip tersebut, saya menuliskan hurup dal () dengan hurup D-atau-d saja. Sementara untuk hurup dhad () saya menuliskannya dengan dh.
Terkait artikulasi hurup ini (makhraj), berdasarkan pengalaman mendengar dari banyak orang, hingga saat ini, saya masih berkesimpulan bahwa lekukan-dan-tekukan lidah sebagian besar orang Indonesia (Melayu) memang sangat kerepotan untuk membedakan pengucapan hurup Arab dhad () dan hurup dal ().
Maka sekali lagi, bahasa adalah komunikasi, dan inti komunikasi adalah pemahaman. Kalau sudah saling paham, ya sudah.
Ramadhan karim.