Biasanya tekanan dari keluarga mertua, juga dari keluarga sendiri mulai terasa, walau masih berupa sindiran, tapi itu belum mampu menundukan keangkuhan jiwa sang aktivis.
Tidak beran ketika musim pemilu datang banyak aktivis mencalonkan diri modal nekat, yah namanya rakyat, pilihan suka-suka mereka, bisa berdasar uang, kekeluargaan, satu aliran, berdasar agama, juga karena pengaruh opini nasional.
Kebanyakan anak-anak muda ini tumbang, beban berat menanti mereka, ditengah tekanan kebutuhan keluarga yang tidak kenal kompromi.
Tidak heran banyak kabar yang saya dengar, banyak kawan yang harus berpisah, ketika cinta dan idealisme saja tidak cukup untuk sebuah keluarga.
Ada sebuah kritik yang saya dengar dan saya baca, Negara ini terlalu banyak memproduksi politikus, tapi kurang memproduksi pengusaha-pengusaha muda.
Mengabdi kepada bangsa tidak harus selalu dikekuasaan, tapi jadi pengusaha juga bisa mulia. Kita boleh benci kepada pengusaha kaya karena kelakuannya atau cara dia mempertahankan usahanya, yang kadang melanggar kepatutan, tapi kita lupa ada banyak jiwa yang bergantung dari usaha mereka.
Hidup adalah pilihan, saat muda menjadi aktivis, setelah itu jadi politisi atau pengusaha atau menjadi PNS, pegawai swasta, itu semua letak pengabdian kepada bangsa dan nusa, tidak selalu aktivis harus jadi politisi, karena tidak lantas menjadi politisi menjadi mulia, begitu juga sebaliknya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI