Saya menginterpretasikan ruang-ruang di dalam rumah May sebagai zona benteng yang punya perbedaan tingkatan. Ruang itu ada tiga; ruang makan, kamar tidur, dan kamar mandi. May tak pernah beranjak sedikitpun dari batas ruang ini. Bahkan ketika rumah tetangganya kebakaran dan sang Bapak mencoba menyelamatkannya, May berontak keras tak mau keluar rumah. May hanya sanggup menapakkan kakinya sampai ke ruang makan.
Ruang makan adalah alegori dari benteng terluar pada kondisi kejiwaan May. Di ruang inilah Bapak bisa berdekatan dan mengawasi May lebih lekat. Namun ironisnya, Bapak hanya mampu melihat May dari "luar".Â
Tak mampu memasuki jiwa May lebih dalam. Karena ketidakmampuannya itu, Bapak merasa frustasi dan menyalahkan dirinya sendiri. Dengan menjadi seorang petinju, ia merasa menemukan tempat penyalur emosi.Â
Kondisi jiwa Bapak sangat kontradiktif, di luar rumah ia sangat agresif dan pemarah. Sementara ketika di dalam rumah bersama May, Bapak bersikap lembut dan penyayang.
Selanjutnya, alegori "kamar tidur" menjadi tempat perbatasan bagi May; ia selalu merasa terlindung jika berada di tempat ini. Kamar tidur ini bisa mengkondisikan spektrum kejiwaan May pada taraf yang tak begitu buruk juga tak begitu baik, artinya relatif aman. Tapi jika sinyal bahaya itu meneror dirinya, yaitu ketika bagian tubuhnya tersentuh, May akan melarikan diri ke kamar mandi.
Alegori "kamar mandi" adalah perbentengan terakhir bagi May. Tempat tersembunyi bagi May, apalagi karena letaknya berada di dalam kamar tidur. Benteng ini adalah ruang paling privat bagi May. Bahkan sang Bapak pun tak pernah tahu jika putrinya itu suka menghukum dirinya sendiri dengan menyileti pergelangan tangan. May sengaja menyembunyikan bekas-bekas luka sayatan itu di balik blusnya yang berlengan panjang.
Di benteng terakhir ini, sebenarnya bisa saja May mati sewaktu-waktu. Tak ada yang tahu pasti sebab May menyimpan luka yang nyaris memborok itu hanya untuk dirinya sendiri. Ia tak tahu harus pergi mengadu ke mana.Â
May merepresi ingatan tentang peristiwa pemerkosaan itu jauh ke dasar jurang alam bawah sadarnya, dengan harapan trauma itu tak muncul ke permukaan. Tapi sesungguhnya yang May lakukan itu hanya berputar-putar di dalam belenggu. May tak permah ke mana-mana dan harus menyangga lukanya sendirian.
Lubang di Dinding Kamar May, Sebuah Gerbang Menuju Pembebasan
Hidup May akhirnya seperti sebuah kompilasi dari upaya represi yang disusun dengan apik nan tertata. Ia selalu merasa bahwa segala jenis keteraturan dalam mekanisme hidupnya itu bisa menambal luka.Â
Keteraturan memang membawanya pada perasaan nyaman dan aman, terutama untuk menghindari konflik, tapi sesungguhnya keteraturan itu hanya semu.