Mohon tunggu...
Rahmad Dede Yufani
Rahmad Dede Yufani Mohon Tunggu... Asisten Rumah Tangga - Suka deadline

Menulis, membaca dan berpergian. Belum memiliki apa-apa.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menjadi "Polisi Moral" dalam Melakukan Praktik "Cancel-Culture"

6 Desember 2023   01:30 Diperbarui: 9 Februari 2025   01:48 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi cancel culture.(Freepik/benzoix via kompas.com)

Pada saat masuk dalam lini masa media daring, kita secara tidak langsung dipertemukan banyak orang yang memiliki latar belakang super-variatif. Tidak jarang kita terheran mengapa banyak orang yang memiliki perilaku aneh atau "stunting" dalam menyikapi revolusi era digitalisasi.

Dari banyak jenis netizen yang bertebaran di lini masa sosial daring, saya akan menitik-beratkan kepada fenomena pada warga internet yang acapkali melakukan "cancel" terhadap orang yang mereka anggap tidak bermoral dalam melakukan sesuatu di mata publik. Saya tidak mengerti kenapa banyak orang yang mudah tergocek dalam sebuah pengiringan opini di ruang publik.

Ketika seseorang Influencer melakukan blunder, maka, netizen secara impulsif menjadi polisi moral yang menerangkan bahwa A itu benar dan B itu salah, dan yang menariknya netizen menggeneralisasi bahwa yang dilakukan oleh Si Influencer itu, yang mana B itu salah dan seharusnya yang ia lakukan adalah A. 

Sebagai contoh, seorang Infuencer enggan memberikan uang sepeser pun kepada anak jalanan yang meminta, hal itu terekam saat Si Influencer itu melakukan live di platfrom TikTok. 

Netizen yang menonton memberikan tanggapan yang mana perbuatan yang dilakukan itu adalah B, seharusnya dia melakukan A. nah, di sini netizen secara dadakan menjadi polisi moral dengan cara mengomentari kejadian tersebut. 

Anggapan yang dilakukan Netizen ini terlalu menekan empati kepada anak jalanan yang meminta-minta, dan akhirnya membela anak jalalan itu. Maka, kita menyimpulkan bahwa netizen menilai kejadian itu secara subjektif tanpa mendengar terlebih dahulu dari penjelasan dari Influencer. 

Padahal anggapan ini salah, karena A dan B itu relatif. Seorang Influencer melakukan hal yang menurut netizen itu B, karena Influencer pikir itu adalah hal yang A yang mana benar, dia melakukan hal yang dianggap B oleh netizen karena dia tahu betul ke mana larinya uang tersebut which is lari ke preman atau bos yang terlibat sindikat eksploitasi anak, maka itu ia tidak memberikan uang sepeser pun, dan itu tidak bisa dibenarkan oleh Influncer tersebut. 

Kemudian, setelah melakukan pembenaran apa yang dilakukan oleh Si Influencer, netizen juga belum puas dan menyangkal hal tersebut, karena pada dasarnya mereka menganggap dirinya selalu benar. 

Nah, pada kasus ini, kita bisa melihat bahwa netizen bisa menjadi polisi moral karena blunder dari tokoh publik. Di saat bersamaan, netizen menerangkan soal "moral" dengan versi yang "benar" menurut netizen.

Sekarang kita coba mengaitkan kasus di atas dengan perilaku "cancelling" yang dilakukan oleh netizen secara kolektif ini. Dalam konteks hukum yang berlaku di Indonesia, apa yang dilakukan oleh netizen di ruang publik tidak melanggar hukum dan dilindung negara yang di atur dalam Pasal 28E UUD 1945, dan selama netizen hanya bersuara berdasarkan konsep A itu benar dan B itu salah, seperti pada kasus diatas, maka, hal itu tidak melanggar hukum dan dilindungi oleh Undang-Undang. Kecuali, jika netizen menyebarkan hate speech atau mencemarkan nama baik Si Influencer, maka hal itu bisa menjadi alat untuk membungkam netizen lewat Pasal 27 UU ITE, kendati Si Influencer melakukan blunder dan mencederai moral sosial menurut netizen.

Cancel culture atau budaya meng-enyahkan, menyingkirkan atau memboikot seseorang mulai ramai ketika netizen "dipersenjatai" dan mendapat hak bersuara di ruang publik.

Jika netizen bergerak secara kolektif dan "menyerang" tokoh publik yang melakukan blunder yang mana melakukan B, maka tanpa mencari kebenaran dahulu, netizen secara frontal bisa saja melakukan pengiringan opini dan melakukan pengenyahan terhadap tokoh publik, hanya dengan dasar asumsi dari pengiringan opini yang beredar. 

Lagi-lagi, tokoh publik yang melakukan blunder tidak menyangka bahwa apa yang dia lakukan yang mana B itu ternyata salah. Padahal konsep A dan B itu relatif, karena A bisa jadi salah dan benar, begitu pula B. 

Hal tersebut tergantung penangkapan makna secara subjektif. Akan tetapi, karena netizen memiliki massa yang satu pemikiran dan koletif beranggapan bahwa B itu salah sedangkan tokoh publik menganggap apa yang dia lakukan adalah A, hanya memiliki sedikit "pendukung" maka, di sini bisa dikatakan bahwa netizen memenangkan argumen bahwa B itu salah, ya meski, sejatinya B bisa benar dan salah.

Adapun dampak dari "cancelling" ini cukup berpengaruh terhadap orang atau kelompok yang terkena budaya pengenyahan ini. Dalam beberapa kasus tertentu, terdapat penolakan sosial terhadap kehidupan pribadi orang yang terkena budaya pengenyahan ini, bisa terjadi dalam ruang publik secara daring namun hal ini hanya sementara tapi akan menjadi reputasi buruk bagi orang tersebut. Dampak lainnya, mungkin bisa terjadi tokoh publik yang sekaligus melakukan bisnis lewat platfrom daring. 

Secara langsung, pemboikotan produk  atau jasa akan terjadi dan itu pasti berpengaruh pada penjualan dan pemasukan, ya meski lagi-lagi, hal tersebut hanya sementara. Karena netizen tidak bisa terus-menerus berkutat pada pemboikotan ini dalam jangka panjang, dan juga mungkin produk yang dijualkan oleh orang yang diboikot memiliki "nilai" dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, netizen tidak bisa menyangkal bahwa produk atau jasa orang yang sedang mereka boikot sukar dilepas.

Seseorang dapat melakukan "cancel-culture" karena mendapat "senjata" secara gratis dan juga mendapatkan massa di media massa lewat pengiringan opini, dan hal itu bisa berhasil karena dilakukan secara koletif. Jika tidak platfrom daring yang terbuka, mungkin budaya pengenyahan ini hanya akan terjadi di ruang tertutup dan tidak bisa meluas. 

Keinginan netizen melakukan "cancelling" karena didasari ketidak-sukaan dengan pendapat orang lain dan juga menyinggung. Padahal semua orang memiliki hak yang sama berpendapat, jika dirasa tidak sependapat atau tidak senang dengan apa yang dilakukan seseorang, saya rasa tidak perlu melakukan intimidasi atau pengecaman terhadap orang yang tidak sependapat. 

Netizen mencerminkan bagaimana demokrasi di sebuah negara bekerja, karena demokrasi tidak akan memberikan hasil yang baik, jika masyarakatnya tidak memiliki keterampilan berdemokrasi yang baik .

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun