Malam terakhir tahun lalu, seperti biasa acara kumpul bareng sodara2. Kakak-adik-ipar-keponakan maunya sih ngumpul aja ngobrol-ngobrol sambil makan kacang (abis ga mampu old & new di hotel berbintang sih..hkhkhk)
Karena kurang perencanaan, akhirnya acara cuma dihadiri beberapa gelintir aja..:-(
Walaupun kurang meriah, tapi ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat dari obrolan ngalor-ngidul nungguin jam 00.00.
Seorang kakak ipar saya mengeluh bahwa suaminya (kakak q tentunya;-0) sangat kurang meluangkan waktu untuk anak-anak mereka yg masih kecil. Pd beberapa kesempatan bahkan anak mrk takut utk sekedar menyampaikan isi hatinya pd sang ayah. Perbedaan pendapat antar pasangan pun sering berlarut-larut karena kurang komunikasi yang sehat...Akibatnya anak2 lebih banyak mengenal hidup ini dari kacamata ibunya saja (ga imbang khan jadinya)
Atau melihat kehidupan salah satu kakak cewek q juga terasa sangat menyesakkan dada..(hehehe jgn heran yah, kakakku ada 9 org jd banyak yg bisa diceritain). Suaminya sangat temperamental, hal kecil aja bisa bikin dia meledak. Waktu anak2nya kecil, mereka tidak berani mengeluarkan suara keras kalau si ayah sedang tidur siang misalnya, karena kalau si ayah merasa terganggu bisa berarti bencana..dan status berubah menjadi SIAGA I (wkwkwk..).
Belum lagi kalau si suami pulang dan rumah terasa panas, pasti si istri disalahkan karena memasak terlalu sore, jadi sisa panas dari dapur bikin udara gerah..waduh..gawat banget khan?? (Udah spt cerita di Oh Mama Oh Papa aja yahh??) Akibatnya si istri tertekan dan anak2pun tumbuh dengan banyak luka di batin mereka...(whuih kasian banget yah keponakan2ku itu...)Â Tetapi bila masalah datang (termasuk masalah anak2) si istrilah yang harus susah payah mengatasi, karena bila si suami tau, bisa2 bkn masalahnya selesai tapi makin runyam karena belum2 sdh marah dulu...(sekali lagi istri dituntut untuk berfungsi ganda..)
Untuk mengatasi keadaan itu, dalam kondisi komunikasi yg payah, satu2nya jalan yg para istri pilih adalah menekan perasaan, seringkali juga menekan anak2 agar 'tidak bikin masalah', bertahan sekuat tenaga..walaupun kita tahu perasaan yg ditekan terlalu lama itu ga sehat, dan siap meledak sewaktu-waktu.
Mendengar curhatan mereka, aq jadi bertanya-tanya kenapa para ayah bisa bersikap dan berbuat seperti itu? Ditambah dengan pengalaman aq sendiri dengan kedua ortu, aq mengambil kesimpulan bahwa "Ketiadaan Figur Ayah adalah 'kutukan'"
Kenapa begitu? Karena seorang ayah adalah 'sumber'. Terang-gelapnya sebuah keluarga ditentukan oleh sang sumber tsb. Itulah sebabnya seorang suami dan ayah sejak awal di design dan diberi tugas untuk menjadi seorang Kepala Keluarga.
Sayangnya design awal untuk para ayah tersebut telah dirusak sehingga para ayah tidak bisa lagi bersikap sebagai ayah yang sejati. Mereka bukannya tidak bisa memilki keturunan, karena nyatanya mereka sukses membuahi para istri dan memiliki anak2, tapi sayangnya mereka gagal berperan sebagai ayah yang sesungguhnya.
Untuk kasus2 di atas, aq melihat mereka para ayah juga adalah para ayah yang perlu dikasihani (walaupun merka kdg tidak sadar). Kenapa? karena merekapun tidak punya figur ayah yang bisa mengajari mereka bagaimana menjadi ayah..
Tipikal orangtua dari generasi di atas kami yang kurang komunikasi, hidup penuh tekanan kemiskinan yang rawan konflik, membentuk pribadi anak2Â yang terlihat kuat diluar tetapi rapuh didalam.
Setiap anak berusaha bertahan dengan caranya sendiri. Yang kuat, berhasil berdiri walaupun jd ga pedulian, yang krg kuat terseok-seok mencoba bertahan. Anak-anak perempuan belajar untuk menjadi dominan dan cakap menyelesaikan masalah karena melihat ibu yang selalu lebih bisa diandalkan ketimbang ayah.
Tanpa mengecilkan andil ayah yang juga telah susah payah menghidupi anak-anaknya, kita bisa maklumi bahwa merekapun mgkn tidak mendapat contoh yang cukup dari kakek kita.
Kondisi yang berulang terus di tiap generasi ini harus diakhiri...
Buat para ayah,bila anda merasa tersentil membaca tulisan ini berarti ini saatnya untuk mulai merubah cara anda memandang keluarga dan anak2 anda.  Jangan jadikan kesibukan cari uang mengabaikan waktu-waktu penting keluarga anda, walaupun alasan 'saya kerja keras kan untuk mereka juga' sangat menggoda untuk melegalkannya. (Coba bayangkan suatu hari anak anda memanggil anda "Om' karena dia tidak pernah kenal dengan ayahnya..hehehe).
Habiskan lebih banyak waktu dengan keluarga anda, tanamkan lebih banyak nilai kehidupan bagi merka, tertawa dan menangislah lebih banyak bersama mereka, dengarkan lebih banyak istri anda..karena itu sangat berharga buat kami para istri.
Jangan mengulang kesalahan yang sama, ambillah kesempatan untuk berubah betapapun kecilnya. Hidup memang berat, tapi kita dibekali kemampuan untuk bertahan dan memenangkan pertandingan.
Karena bila kita menghadap sang pencipta nanti, DIA hanya akan meminta pertanggung jawaban tentang keluarga yang sdh DIA berikan kepada para ayah/suami dan bukan kepada para ibu/istri.
Peace !!! Met Taon Baru.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI