Tampak milyaran, bahkan mungkin trilyunan kesadaran seperti kami. Mereka hadir dalam berbagai ukuran dan warna; merah, orange, kuning, hijau, biru. Sangat jarang yang berwarna violet. Namun hanya ada satu ‘kesadaran’ yang terbesar dan berwarna putih terang. Ia bergerak dengan tenang, nyaris tak bergerak, dikelilingi cahaya-cahaya lainnya.
“Itu siapa?” tanya cahaya merah tersebut, “Ia sangat besar dan terang.”“Kau bisa bertanya sendiri padanya,” jawabku, “Ia sudah sangat lama ada di sini. Ia pernah bilang bahwa takdirnya ke dunia belum tiba.”
“Takdir apa?”
“Takdir untuk membawa satu jiwa putih terang lagi yang sekuat dia kembali ke sini.”
“Oh…”
* * *
Sepuluh, dua puluh, limapuluh, seratus, duaratus tahun berlalu. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Cahaya merah itu sekarang sudah sedikit lebih terang. Selama masa itu kami banyak melihat cahaya-cahaya lain datang silih berganti.
Suatu hari cahaya itu pergi meninggalkanku. Ia kembali ke dunia bersama cahaya-cahaya lainnya.
“Kita akan bertemu kembali!” ujarnya, “Terimakasih untuk kebersamaan kita.”
Jarak antara kami semakin melebar. Ia semakin jauh masuk ke dalam pusaran takdir. Aku tak melepaskan pandanganku padanya hingga pusaran yang membawanya menutup.
“Berbahagialah…” bisikku.
* * *
Sembilan tahun kemudian aku mendengar ia kembali. Tubuh gadis kecil yang ditempatinya tewas dalam sebuah kebakaran dan tidak bisa diselamatkan karena terjebak dalam rumah berteralis besi tebal.