Mohon tunggu...
Roesda Leikawa
Roesda Leikawa Mohon Tunggu... Editor - Citizen Journalism, Editor, Penikmat Musik Instrumen dan Pecinta Pantai

"Menulis adalah terapi hati dan pikiran, Kopi adalah vitamin untuk berimajinasi dan Pantai adalah lumbung inspirasi" -Roesda Leikawa-

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Gara-gara Menulis di Kompasiana, Saya Dipanggil

1 September 2015   14:12 Diperbarui: 1 September 2015   14:24 3267
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption caption="Sumber : https://ariefnd.wordpress.com/2012/03/18/etika-menulis-di-internet/"][/caption]“sebelum membaca tulisan ini, mohon maaf jika ada kalimat yang tidak berkenang dihati atau terkesan berlebihan”.

Sering menulis di media warga seperti Kompasiana ini, ternyata ada dampaknya juga, beberapa kawan-kawan meminta saya menulis tentang kegiatan mereka padahal saya hanya menulis sekedar menyalurkan kesenangan, melatih diri, sekaligus ingin berbagi informasi kepada public saja, tapi saya senang karena mendapat kepercayaan, meski dalam hati sebenarnya kurang percaya diri maklum tulisan saya masih asal-asalan heheheh.

Parahnya, saya dikirain wartawan oleh masyarakat. Jadi kalau ditanya wartawan dari media mana, saya sich jawabnya bukan wartawan , cuma suka menulis saja, lalu kalau saya ditanya berkali-kali dengan nada memaksa gitu, Akhirnya, jawaban saya begini “saya bukan wartawan tapi mantan wartawan”, iya lima tahun yang lalu di salah satu media lokal Ambon, nama medianya Spektrum Maluku, saya mulai menempuh separuh perjalanan sebagai kuli tinta, namun tidak lama saya menyandang profesi jurnalis, rupanya saya jatuh cinta dengan tawaran lain yang bisa membuat saya bebas menemukan apa dan siapa saja untuk ditulis, tanpa harus bergantung pada atasan dan tidak mesti terburu-buru oleh deadline, tentunya juga saya bebas berekspresi dalam menulis.

Jatuh Cinta Pada Kompasiana…??

10 Mei 2011 lalu, saya mulai bergabung dengan Kompasiana, rupannya tidak membuat saya langsung tertarik untuk menulis disini, karena sebelumnya saya lebih suka menulis di blog pribadi http://roesda11.wordpress.com  , Awal perkenalan dengan kompasiana pun bermula saat saya mengikuti acara Blogshop Kompasiana di Hotel Amans Ambon yang diselenggarakan oleh “Korang Ekspresi” dengan koordinatornya Caca Yusnita Tiakoly (sekarang menjadi salah satu admin Kompasianer Amboina).

Untuk menulis pun, saya lebih cenderung menulis puisi dan dipublikasikan melalui blog pribadi, hanya sesekali menulis artikel baru dimuat pada kompasiana, namun sejak saya menulis tentang Negeri EMA http://www.kompasiana.com/rusda/negeri-ema-yang-dilupakan-bangsa_5537e3c06ea834445bda42ce, Kebudayaan di Negeri Morella http://www.kompasiana.com/rusda/pesona-tradisi-morella-di-bulan-ramadhan_55a502374b7a6131186ec835 dan beberapa artikel tentang Maluku di Kompasiana, serasa seperti ada magnet yang menarik diri saya untuk selalu membuka akun di kompasiana. Beberapa teman-teman mulai menyukai tulisan saya, (dalam hati duh senang sekali, tidak sia-sia saya menulis, hehehe).

Bahkan yang bikin saya sedikit berbesar kepala adalah di salah satu pertemuan antar kawan-kawan aktivis #EmaBergerak dengan masyarakat Negeri Ema, oleh koordinatornya Yani Salampessy, saya diperkenalkan sebagai seorang penulis di kompasiana (aduh malunya minta ampun, meski sedikit berbunga-bunga juga hahhaha), Sebenarnya bukan menjadi kebanggaan atau kesombongan, tapi saya merasa ini masih bagian dari proses pembelajaran dan vitamin untuk terus semangat menulis.

[caption caption="Sumber : http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/01/09/mgcn8j-suka-menulis-tengok-gerakan-yang-satu-ini"]

[/caption]

Menurut saya,menulis itu tidak hanya sekedar untuk berbagi pengetahuan atau informasi, tidak juga sebagai aktivitas belajar saja, namun menulis bisa dijadikan sebagai obat hati, vitamin penambah semangat hidup dan terapi kesehatan. Seseorang yang kepribadiannya tertutup pada banyak orang justru merasa nyaman curhat pada buku diary, seorang penyair misalnya mengatakan rasa cinta pada alam melalui puisi, bahkan seorang pemarah yang tak bisa meluapkan emosinya, juga menulis pada media social, saya yakin semuanya itu akan menimbulkan kepuasan pada orang yang bersangkutan.

Sama halnya dengan saya, ada rasa legah setiap kali menyelesaikan tulisan, kemudian disusul dengan rasa puas, meskipun bukan penulis professional, tapi saya berkiblat pada prinsip saya sendiri bahwa dengan menulis, berarti saya sedang melatih otak dan hati.

Dipanggil sebagai Pewarta Warga

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun