SEPERTI biasa, waktu itu saya sedang pelajaran dengan  anak-anak didalam kelas. Terselip intermezo obrolan ringan dari anak-anak seperti ini;
   " Pak, kok ngga ada acara plesir ke Jakarta sih ?" protes seorang anak
   " Kan corona, kita masuk sekolah aja dibatasi " jawabku
  "  Rugi kami Pak !"
   Teman-temannya yang lain juga " mengamini" ramai-ramai dengan nada kecewa;
   " Iya Pak .....! "
   " Kan malah ngga mengeluarkan duit dong " ledek saya sambil senyum biar cair suasana.
   " Pak saya masuk sekolah sini biar bisa plesir ke Jakarta seperti kaka-kakak kelas sebelumnya. Kapan lagi akan plesir ke jakarta kalau nggak lewat sekolah ?"
   Terasa masgul juga hati ini mendengar cuitan anak seperti itu.
   Obrolan itu adalah nyata, bukan cerita rekaan. Mari kita pahami dari sudut pandang anak, sepertinya tidak salah juga apa yang mereka omongkan. Pergi ke Jakarta bagi sebagian anak yang punya saudara di Jakarta memang bukan hal yang tidak mungkin. Hanya saja, biasanya baru akan pergi ke Jakarta karena ada kepentingan keluarga, seperti kondangan karena sedang punya hajat. Kalau hanya karena murni " berlibur " sepertinya terlalu " ngoyoworo " sehingga susah terealisasi. Dan biasanya pula, kalau pergi ke Jakarta karena hal yang seperti itu, mereka akan lebih banyak terperangkap dirumah saja. Agak susah nampaknya mengharap " tuan rumah " untuk menjadi " " pemandu wisata " bagi saudaranya yang dari desa itu.
Kasus Kedua