"Passing grade-nya delapan lho, D " katanya sambil membuat bagan, "Kamu udah ngerti kan?"
He he he. Passing grade ujian itu memang delapan koma nol. Tidak boleh kurang. Tujuh koma sembilan saja akan dianggap tidak lulus ujian, gugur. Aku tahu itu.
Dan oh.. Aku lulus ujian itu. Nilaiku di atas delapan, he he he.. Temanku itu, sepertinya sama leganya dengan aku. Muridnya yang nggak pinter- pinter amat ini lulus dalam satu kali ujian saja. Ha ha.
Adikku, dan ayahku, tentu saja kupercayai sepenuhnya. Keduanya engineer. Memiliki kemampuan teknis yang mumpuni, keduanya juga kutahu bisa menjelaskan hal- hal rumit dengan cara sederhana.
Ada lagi seorang kawan lain yang juga sering kumintai tolong. Kawan dari masa kecil yang kelak di kemudian hari memilih guru sebagai profesinya. Orang yang juga bahkan dari masa kecil dan remajaku dulu sering membantu aku menjawab pertanyaan- pertanyaan yang muncul di kepalaku. Guru teladan tingkat provinsi dia itu, dan lalu menjadi Kepala Sekolah yang bisa kubayangkan, style-nya pasti asyik sekali.
***
Sebab aku tahu, tak semua orang bisa menangani. Orang pintar banyak, orang yang berpendidikan tinggi bertebaran, tapi orang yang memiliki karakteristik bisa menerangkan hal rumit menjadi sederhana sehingga bisa dipahami oleh anak kecil tidak banyak.
Tak semua orang juga memahami kenapa pertanyaan 'kecil' dari bocah cilik saja perlu dianggap serius, dan karenanya bersedia meluangkan waktu disela banyak kesibukan untuk menjawab pertanyaan si bocah kecil yang bahkan mungkin akan berkepanjangan, dari satu pertanyaan berkembang menjadi dua, atau bahkan tiga, dan seterusnya.
Orang- orang itu juga kutahu, selain kepintarannya memiliki kebaikan hati, ketulusan dan keluasan pandang sehingga aku bisa yakin bahwa jika bicara dengan mereka bocah kecilku akan dibukakan jalan dan tak tersesat.
Aku selalu... selalu dan selalu merasa beruntung bahwa dalam ada orang- orang semacam itu hadir dalam hidupku. Hidup kami. Dan tak cukup terkatakan terima kasihku pada mereka semua.