Mohon tunggu...
Rully Bachtiar.M.Si
Rully Bachtiar.M.Si Mohon Tunggu... Guru - Guru. Penulis. Blogger.

Buku antologi: 1. My Inspiration 2. Edukasi di Era Pandemi 3. Wiyata Amarta 4. Goresan Tinta Sang Pelangi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mulutmu, Harimaumu, Apakah Benar?

29 November 2024   17:20 Diperbarui: 29 November 2024   22:39 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Selamat beraktifitas Kompasianers Indonesia. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan yang maha Esa.

Kali ini saya ingin berbagi sepatah dua patah tentang bahaya mulut manusia. 

Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa"Mulutmu, Harimaumu!"

Ketika mulut berbicara segala sesuatu yang berasal dari otak akan tersalurkan langsung ke mulut. 

Tidak ada yang selamat dari bahaya mulut manusia. Sekalipun orang tersebut yang dibicarakan adalah seorang pemimpin. 

Bahkan, Orang diam saja masih saja kena cibiran dari mulut manusia, bayangkan orang diam itu jadi bahan omongan oleh mulut manusia. Naudzubillahimindzalik. 

Bahaya mulut seperti ghibah itu terasa seperti menjatuhkan koin ke dalam lautan. Walaupun tidak terasa tapi jika detik demi detik, menit demi menit lautan akan penuh dengan koin itu. 

Jika dosa terlihat seperti bentuk maka bentuk tersebut seperti butiran pasir yang ada di pantai. 

Mulut manusia tidak akan pernah habisnya untuk membicarakan tentang hal-hal yang tidak penting. 

Malah lebih parahnya Tuhan semesta alam masih saja dicaci dimaki oleh makhlukNya yang tidak bersyukur karena sudah diberikan nikmat hidup, nikmat makan, nikmat bernafas. 

Banyak dalam kasus di televisi terjadinya perkelahian dan lebih parahnya sampai pembunuhan berencana di akibatkan mulut manusia. 

Berita yang sedang heboh yakni seorang pemuda yang sudah menikah. diolok-olok oleh tetangganya sendiri karena belum mempunyai anak. 

Tetangganya menyuruh untuk meninggalkan istrinya dan untuk menikah dengan wanita lain.

Karena pemuda tersebut tersinggung dengan perkataan tetangganya maka dia langsung mengambil goloknya untuk membunuh tetangganya.

Padahal nota benenya hanya sekedar bicara tapi ternyata hal tersebut bukanlah yang baik karena sudah ikut campur rumah tangga orang lain. Parah bukan? Hal itu karena mulut yang tidak bisa dijaga. 

Hikmah yang dapat diambil dalam artikel ini adalah: 

Lebih Baik Diam

Jika kata-kata sudah tidak lagi berarti maka lebih baik diam, karena diam adalah emas

Berkata itu Mutiara 

Jika dikatakan diam itu adalah emas, maka seyogyanya itu berkata dengan kata-kata bijak tidak menyakiti hati orang lain. 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun