Sampai di lokasi, kami lebih takjub lagi...karena terbiasa dimanja dengan pemandangan Stasiun Commuter Line yang sudah modern sejak Presiden Jokowi memimpin, dan beberapa Stasiun di daerah juga sudah dipugar (termasuk Stasiun besar Bogor), rumah tua dengan jejeran kursi yang diberi peneduh atap sederhana (tanpa AC ataupun kipas besar), penumpang yang duduk-duduk di emperan peron karena tidak kebagian tempat duduk, membuat kami bertanya-tanya...GAK SALAH NI STASIUN? Ah tapi ya sudahlah, mungkin karena ini stasiun dengan 1 trayek pendek, maka penyempurnaannya juga cukup seperti itu tidak perlu berlebihan. Cuma pertanyaanya, kalau sekarang seperti ini, gimana dulunya sebelum dibenahi ya?
Namun penilaian tadi tidak berhenti dengan 2 bintang saja, jika melihat fasilitasnya dengan musholla yang cukup luas, toilet yang bersih, air yang banyak, free charging dock, kantin yang bersih dan beragam menunya, kerahaman dan kesigapan petugas, plus
fasilitas pendukung elektronik yang sudah sama modern-nya dengan stasiun lain, sepertinya 1 bintang lagi patut disandang stasiun ini, so...kami kasih 3 bintang deh buat stasiun Bogor-Paledang.
Sekitar 1 jam kami menunggu di stasiun, kereta yang di jadwal berangkat pukul 13.10, sudah datang pukul 12.45 wib dengan membawa penumpang dari Sukabumi tentunya. Setelah interior kereta sepertinya dibersihkan selama lebih kurang 10 menit, kemudian speaker informasi memberitahukan kereta akan berputar di stasiun Bogor, penumpang harap bersiap-siap...DAAANGGGGG....berputar di stasiun bogor?? lalu kenapa penumpang tidak naik saja sekalian di stasiun bogor ya??? kenapa "perjuangan" tadi harus terjadi ya??? Bukankah lebih simple jika semua penumpang naik kereta Pangrango ini juga di stasiun bogor, yang lebih luas, nyaman, dan datar kondisi tanahnya?? Ah....
15 menit berselang, speaker stasiun kembali berbunyi memberitahukan kereta sedang menuju kembali ke Stasiun Bogor-Paledang, penumpang diharap bersiap-siap. Layaknya kehidupan "normal" di Indonesia, penumpang langsng berdiri dan mengantri di pintu masuk peron...Antrian panjang dan posisi penumpang yang berdersakan di jalur tunggu yang sempit makin memperburuk pandangan. Padahal, semua penumpang ini sudah punya tiket dengan nomor duduk yang pasti, kondisi ini seharusnya bisa dihindari, toh kereta belum tiba di stasiun, dan waktu berjalan kembali pun masih cukup jika kita memberikan cukup ruang, yang hasilnya bisa lebih enak dilihat dan lebih "selamat", dibanding berdesakan di jalur tunggu kereta.
Setelah masuk, kondisi kereta normal layaknya kereta api di Indonesia sejak tahun 2014-2015, kereta Eksekutif dengan segala kenyamanan dan Kereta Ekonomi yang kini sudah dilengkapi Pendingin Udara (AC) dan dibenahi penunjang lainnya seperti colokan listrik di masing2 jendela, dan kaca hitam untuk meminimalisir sinar matahari yang masuk ke kompartemen gerbong. Untuk Kereta Pangrango, tersedia 1 gerbong Kelas Eksekutif, dan 4 gerbong Kelas Ekonomi plus 1 gerbong restorasi.
Selama lebih 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 50 km, pemandangan yang tersaji di jendela penumpang rasanya kurang menarik jika dibanding menggunakan kereta dengan rute bandung, atau wilayah jawa tengah lainnya. Selama perjalanan lebih banyak disuguhi perumahan padat penduduk dan kebun-kebun saja, belum lagi kereta yang selalu berhenti di setiap stasiun yang dilewati dengan kecepatan rata-rata yang saya ukur dengan GPS hanya sekitar 30-50 km/jam.
Tibalah kami di Stasiun Sukabumi yang juga merupakan bangunan Cagar Budaya, dengan senyum, mengingat waktu tempuh normal 8-10 jam dari jakarta, ditambah biaya bensin, jajan berkali-kali, serta nilai kesabaran dan lelah yang sulit jika dikonversi dengan uang. Kali ini kami hanya menghabiskan sekitar maksimal 4-5 jam saja, dengan pengorbanan naik tangga penyebrangan atau jalan berputar yang agak jauh, serta kondisi jalan berlubang sekitar 200-300 meter menuju stasiun yang cukup "sederhana" Bogor-Paledang.
So, jujur saja....kami sarankan untuk ke Sukabumi, lebih baik dengan transportasi Kereta Api, jika direncanakan jauh-jauh hari. Sangat menghemat waktu, biaya, dan kesabaran tentunya. Terlebih bagi warga JABODETABEK yang sehari-hari berkutat dengan kemacetan. Masa sih sehari-hari kena macet, terus mau liburan akhir pekan rela kena macet juga?
Terima Kasih buat saudara2ku di Sukabumi, dan sahabatku Dhita yang sempat kami titipkan membeli tiket kereta walau batal, karena jadinya kami sendiri yang memutuskan beli langsung ke Bogor.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H
Lihat Travel Story Selengkapnya